Festival yang berlangsung di halaman Kantor DPR Papua dan Kampus Universitas Cenderawasih itu bukan sekadar perayaan kuliner tradisional. Di balik aroma papeda dan aneka olahan sagu yang memenuhi area festival, tersimpan kegelisahan besa
Sagu kata Ayorbaba tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga memiliki nilai budaya, sosial, dan ekonomi yang kuat bagi masyarakat setempat. Untuk itu IG menjadi kunci dalam memberikan perlindungan hukum terhadap sagu Papua, sekaligus m
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua melalui Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura terus mengembangkan sagu sebagai pangan lokal unggulan yang berkelanjutan hal ini dikarenakan komoditas tersebut merupakan salah satu pendukung ket
Menurut Lunanka, penguatan budidaya menjadi langkah penting untuk memastikan ketersediaan sagu dalam jangka panjang, sekaligus menjaga ekosistem hutan sagu yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Papua. "Selain itu kami juga akan memperk
Kepala Kemenkum Papua, Anthonius Ayorbaba menyatakan bahwa pihaknya mendorong Pemerintah Provinsi Papua melalui dinas terkait atau pemegang merek lokal seperti “Colo Sagu” untuk menjadi inisiator dalam memperingati hari tersebut. Hal ini i
Partisipasi pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dalam Festival Sagu yang diselenggarakan oleh Kementerian Hukum dan Pemprov Papua selama kurang lebih tiga hari di halaman kantor gubernur Papua menunjukkan peningkatan signifikan d
Pemerintah Provinsi Papua terus mendorong pengembangan komoditas sagu sebagai pangan lokal unggulan. Potensi hutan sagu di Papua disebut mencapai sekitar 14 juta hektare, menjadikannya yang terbesar di Indonesia bahkan dunia. Plt Kepala Din
Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kemenkum) Papua menegaskan bahwa pendaftaran indikasi geografis (IG) menjadi langkah strategis dalam melindungi dan meningkatkan nilai tambah komoditas sagu di Tanah Papua. Kepala Kantor Wilayah Kementerian
Perlindungan hutan sagu kembali disuarakan sebagai langkah menjaga keberlanjutan pangan lokal di Papua. Upaya ini dinilai penting untuk mencegah hilangnya hutan sagu akibat alih fungsi lahan yang terus mengancam.
Wakil Gubernur Papua, Aryoko Rumaropen mengatakan kerja sama ini diharapkan dapat mendukung pembangunan daerah melalui pemanfaatan potensi lokal. “Potensi yang ada di Papua diharapkan bisa dikembangkan untuk mendorong ke
Tapi hari itu bukan tentang pernikahan. Hari itu adalah tentang bentuk penghormatan yang disajikan mamsyarakat kampung kepada tamu yang datang dari jauh. Dari negeri yang bahkan belum pernah sebagian warga bayangkan sebe
Berdasarkan laporan Tim Universitas Papua (Unipa) Manokwari bersama Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Papua tahun 2020, sejumlah distrik di Kabupaten Jayapura tercatat mengalami kehilangan hutan sagu d
Di dalam gereja, doa-doa dipanjatkan dengan penuh penghayatan. Namun di luar, kecemasan perlahan tumbuh. Beberapa kaum bapak tampak bolak-balik keluar gereja.
Mata mereka tertuju ke arah Kali Yoboi yang mengalir deras. A
Bupati Jayapura, Yunus Wonda, mengatakan penanaman sagu tersebut sejalan dengan harapannya sejak dilantik sebagai kepala daerah. Ia mengapresiasi peran gereja yang turut mengambil bagian dalam menjaga kelestarian sagu di
Menurut Jimmy, oleh sebab itu pihaknya mengajak kerja sama yang kuat antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait guna mengembangkan potensi sagu di Papua. "Untuk itu pada 2026, kami mulai melakukan langkah konkret un
Diantara celah-celah pepohonan sagu yang berduri, berdiri sejumlah anak muda di Jayapura dan Kabupaten Jayapura yang ikut memikirkan soal pentingnya keberlangsungan kehidupan masyarakat di kampung. Masyarakat yang selama
Dikatakan bahwa sagu sudah sejak nenek moyang digunakan untuk bahan makanan dan jika orang tua dulu masuk ke kebun sagu, saat pulang maka ia akan mendapati bahan makanan.
Menurutnya, Kabupaten Jayapura memiliki potensi sagu hampir mencapai 1 juta hektare. Potensi besar ini perlu dikelola dengan teknologi yang tepat agar memberikan manfaat maksimal. “Jika pabrik terlalu besar, bahan bakuny
Ondofolo Kampung Sereh, Yanto Eluay, menjelaskan bahwa pembangunan pabrik tersebut bertujuan untuk membangkitkan ekonomi masyarakat di sekitar Danau Sentani pasca bencana banjir bandang dan pandemi Covid-19.
Hamparan pohon sagu di Kabupaten Jayapura, Distrik Sentani Barat, Kampung Maribu masih bisa kita jumpai dipinggir jalan raya, bagaikan pohon kelapa yang rimbun, meski tak lagi sepadat 10 bahkan 20 tahun lalu. Aktivitas s
Indikasi Geografis adalah bentuk perlindungan hukum terhadap produk yang memiliki ciri khas dan kualitas yang terikat dengan wilayah geografis asalnya. Di Papua sendiri, baru dua komoditas lokal yang telah memiliki serti
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo menegaskan bahwa kegiatan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79 ini tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat masyarakat adat, khususnya d
Kapolresta Jayapura Kota, AKBP Fredrickus W.A Macklarimboen, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dan menjadi ajang untuk mengangkat kembali potensi pangan lokal khas Papua, khususnya sagu di Kota Jayapura.
Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Papua, Anthonius M. Ayorbaba mengatakan, saat ini untuk Indonesia, produk unggulan sagu berada di Kabupaten Meranti yang mana bibit sagu di Kabupaten Meranti berasal dari Ka
"Seperti yang kita lihat, dengan adanya pembangunan yang besar-besaran di Sentani dan sekitarnya, banyak hutan sagu yang telah ditebang untuk dibangun perumahan maupun pertokoan, hal ini mengurangi jumlah hutan sagu di K
Kunjungan tersebut dilakukan oleh Dubes Nico Barito, Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, pada sela-sela kedatangan beliau untuk merayakan Misa dalam rangka Jumat Agung, beliau menyempatkan diri untuk berkunjun
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo menyampaikan bahwa dirinya sebagai anak kampung yang sudah lahir besar dengan sagu. Sebagai salah satu makanan pokok tradisional, Abisai Rollo berkomitmen akan membudidayakan tanah sag
Peralatan yang dibutuhkan adalah kampak untuk menebang pohon sagu, tomako batu yang diikatkan pada sebuah kayu untuk dijadikan sebagai alat tokok, tapisan yang secara tradisional dari serabut kelapa diambil dari pelepa
‘’Setiap tahun masyarakat Distrik Waan mengalami kekurangan pangan akibat umbi-umbian yang menjadi bahan pokok masyarakat rusak atau busuk akibat banjir Rob yang terjadi antara bulan Desember sampai Maret,’’ kata Biktor Mawen
Ketua Kelompok Substansi Pemasaran Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan, Elvyrisma Nainggolan menjelaskan dengan adanya mesin produksi sagu merupakan hal yang sangat positif, karena langsung menyentuh masyarakat.
Siapa yang bisa lupa kejadian memilukan pada 16-19 Maret 2019 lalu. Sebuah bencana yang tak pernah diprediksi siapapun menghantam Kota Sentani dan sekitarnya. Hujan yang turun dengan intensitas tinggi berlangsung beberapa hari membuat bendungan alam yang selama ini terbentuk secara alami di Gunung Cycloop terlepas.
Meski lokasi camping yang digunakan hanya seadanya namun terlihat nyaman karena berada di bawah rindangnya pepohonan sagu. Tak ada kesan panas jika berada di dalam hutan sagu ini. Selain kondisinya lembab, tenda-tenda yang didirikan juga tertutup banyakan pepohonan. Cenderawasih Pos yang sempat menyambangi lokasi camping mendapati bahwa para generasi muda ini diajarkan banyak hal yang intinya bagaimana mengingatkan mereka soal budaya
“Harus dikaji seperti apa sistemnya, jika misalkan anggaran dari pusat maupun daerah mampunya setiap hari atau dalam seminggu beberapa kali, maka itu perlu dibicarakan,” kata Ramses kepada Cenderawasih Pos, Senin (2/12).
Tidak pernah terbayangkan jika pohon sagu di Sentani, Kabupaten Jayapura pelan namun pasti terus tergerus. Kawasan ini terkikis oleh luasan lahan untuk perumahan, akses jalan, tempat usaha, perkantoran dan lainnya. Sementara untuk menanam sagu dan bisa dipanen itu membutuhkan waktu kurang lebih 20-30 tahun. Selain itu jika melihat dari aspek manfaat, pohon sagu memiliki banyak nilai plus. Mulai dari ketahan pangan, bahan papan dan juga ketersediaan air bersih.
Dari agenda yang sempat vakum 3 tahun ini diharapkan ada momentum lain yang bisa digagas yakni kebangkitan pangan lokal. Disini juga terungkap bahwa sagu yang menjadi makanan pokok di wilayah perkampungan perlahan mulai dilupakan dan terganti oleh beras.
Kapolres Jayapura AKBP Fredrickus W.A Maclarimboen mengatakan, kegiatan penanaman pohon sagu ini dilakukan selain dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara, juga sebagai upaya memperingati Hari Sagu.
Kapolres Jayapura, AKBP Fredrickus W.A Maclarimboen mengatakan, sebelum sepuluh pasangan melakukan Sidang BP4R, peserta sidang diwajibkan menanam pohon sagu, sebagai bentuk komitmen bersama melestarikan alam dan budaya lokal Papua.
Mama Yosephina mengaku, pohon sagu yang ia tebang kali ini usianya sudah sekitar 15 tahun sehingga secara ukuran dan hasilnya juga banyak. Untuk satu pohon sagu ia mengaku bisa olah menjadi sagu sekira 100 kg atau 10 sak beras ukuran 10 kg.
Seperti yang diungkapkan Mama. Ice pemilik Papeda Instan bahwa produksi papeda instan ini butuh bahan baku hanya berupa sagu, yang kemudian diolah hingga bersih untuk dijadikan tepung sagu dan dikemas menjadi Papeda Instan.
Untuk itu, lanjut Koibur, pihaknya terus berupaya mendorong peningkatan produksi pada komoditas unggulan di Papua agar dapat dilakukan ekspor. Seperti yang dilakukan kemarin dengan melakukan ekspor biji kakao yang berasal dari Kabupaten Jayapura.
Tentu ini menjadi salah satu kebanggan bagi perempuan Asli Orang Papua yang mampu berinovasi dalam pembuatan kerupuk dari bahan sagu. Bahkan kerupuk dari bahan sagu ini sudah pernah jual ke temannya sampai luar negeri yakni Belanda dan Amerika Serikat.
Mr Park Jibae yang asal dari Negara Korea ini didampingi Manager Public Relation Yulian Mohammad Riza, Andini dan Henry. Mereka ditemui langsung langsung oleh Pimpred Cenderawasih Pos Lucky Ireeuw, Manager Marketing Mansoer Anwar dan sejumlah redaktur Cenderawasih Pos. Staf Humas TSE Rizal, mengaku bersyukur akhirnya bisa datang ke redaksi Cenderawasih Pos bersama pimpinan tertinggi di bidang humas PT TSE Mr Park Jibae.
Papeda merupakan sebuah hidangan yang begitu istimewa bagi Indonesia Timur yang merupakan sajian bubur sagu khas yang menjadi makanan pokok bagi masyarakat di sana. Hidangan sederhana ini telah menjadi sajian tradisional Papua dan menjadi bagian integral dari warisan budaya Indonesia.
Workshop dibuka oleh Direkrut Penyerasian Pembangunan Daerah Khusus, Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Dwi Rudi Hartono, yang dalam sambutannya mengatakan bahwa melalui workshop ini bagaimana membekali para UMKM atau masyarakat di Kabupaten Keerom memanfaatkan potensi pangan lokal, guna mengantisipasi terjadinya krisis pangan.
Selain pengadaan bibit sapi untuk diberikan di 2 kelompok masyarakat di 2 kampung, dana Otsus juga untuk pembiayaan penanaman bibit kopi bagi kelompok tani kopi dan pemberian bantuan mesin pengolah sagu.
Turut hadir dalam kegiatan ini Sekda Kabupaten Jayapura Dr. Hana S. Hikoyabi, S.Pd., M.KP, Kasat Binmas Iptu I Made Ambo Arjana, SH., MH, Kadis Ketahanan Pangan Kabupaten Jayapura Suliyono, Kadis Perikanan Kab. Jayapura Ir. Rudi A. Saragi, Ondoafi Kampung Putali Jhon V. Monim, Kepala Kampung Hendri Monim, Co Founder Colo Sagu Michael Yarisetouw dan warga Kampung Putali.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Papua, Jeri Agus Yudianto menyampaikan, saat dilakukan pertemuan antara Pj Gubernur Papua M Ridwan Rumasukun dan Kabulog. Mendorong masyarakat peningkatan potensi komoditi non beras dan itu sudah menjadi konsennya Pemda.
“Wilayah Kampung Kibay Distrik Arso Timur merupakan daerah yang banyak memiliki sumber alam yang dapat diberdayakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” ungkap Danpos. Jum'at dalam rilisnya (1/9).
Kunjungan dua chef asal Negara Qatar yakni The Captain Chef Hassan Abdullah Al Ibrahim dan Noof Al Marri di Jayapura pekan kemarin, memang di satu sisi memberikan kesadaran bagi masyarakat Papua, untuk bersyukur atas potensi alam Papua dengan potensi bahan pangan lokalnya.
Kuliner yang ada di Papua, yakni sinole, papeda, kopi, dan beberapa jenis umbi-umbian. Tidak hanya itu, koki asal Qatar Hassan Al Ibrahim juga dikenalkan bagaimana proses mengelola sagu menjadi papeda yang merupakan makanan asli penduduk setempat.
"Jadi Festival Port Numbay ini sebagai upaya Pemerintah untuk mempromosikan objek wisata yang ada di tiga Kampung di daerah perbatasan RI-PNG," ucap Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Matias B. Mano, Kamis (22/6).
“Tujuan kita melakukan penanaman pohon sagu tentu mengajak masyarakat kampung bisa terus menanam sagu supaya sagu yang diolah tidak akan habis, sehingga kita butuh masyarakat kampung OAP juga bisa menanam pohon sagu di tempat mereka miliki,’’ungkapnya,Kamis (22/6)kemarin.