JAYAPURA-Pemerintah Provinsi Papua terus mendorong pengembangan komoditas sagu sebagai pangan lokal unggulan. Potensi hutan sagu di Papua disebut mencapai sekitar 14 juta hektare, menjadikannya yang terbesar di Indonesia bahkan dunia. Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Papua, Lunanka V.M.L. Daimboa mengatakan, dari potensi tersebut, lahan sagu yang telah dibudidayakan oleh petani di sembilan kabupaten/kota baru sekitar 14 ribu hektare.
“Lahan yang dikelola petani ini berada di bawah binaan dinas pertanian, baik kabupaten, kota maupun provinsi,” ucapnya kepada wartawan, Selasa (28/4).
Ia menjelaskan, data komoditas sagu Papua hingga kini belum tercatat secara resmi dalam statistik Badan Pusat Statistik (BPS). Meski demikian, pihaknya telah memiliki basis data sendiri serta program pembinaan bagi petani sagu.
Menurutnya, pemerintah tidak hanya mendorong pemanfaatan hasil sagu, tetapi juga penguatan budidaya agar keberlanjutan tanaman tetap terjaga. “Kami ingin petani tidak hanya mengambil hasil, tetapi juga belajar membudidayakan sagu sehingga populasinya tetap terjaga,” katanya.
Lunanka menegaskan, ke depan produksi sagu di Papua diharapkan mampu bersaing dengan komoditas pangan lainnya. Pada 2026, dukungan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia juga diarahkan pada program hilirisasi sagu. Program hilirisasi tersebut, kata dia, akan difokuskan di Kabupaten Waropen yang memiliki kawasan hutan sagu terluas kedua setelah Kabupaten Mamberamo Raya.
JAYAPURA-Pemerintah Provinsi Papua terus mendorong pengembangan komoditas sagu sebagai pangan lokal unggulan. Potensi hutan sagu di Papua disebut mencapai sekitar 14 juta hektare, menjadikannya yang terbesar di Indonesia bahkan dunia. Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Papua, Lunanka V.M.L. Daimboa mengatakan, dari potensi tersebut, lahan sagu yang telah dibudidayakan oleh petani di sembilan kabupaten/kota baru sekitar 14 ribu hektare.
“Lahan yang dikelola petani ini berada di bawah binaan dinas pertanian, baik kabupaten, kota maupun provinsi,” ucapnya kepada wartawan, Selasa (28/4).
Ia menjelaskan, data komoditas sagu Papua hingga kini belum tercatat secara resmi dalam statistik Badan Pusat Statistik (BPS). Meski demikian, pihaknya telah memiliki basis data sendiri serta program pembinaan bagi petani sagu.
Menurutnya, pemerintah tidak hanya mendorong pemanfaatan hasil sagu, tetapi juga penguatan budidaya agar keberlanjutan tanaman tetap terjaga. “Kami ingin petani tidak hanya mengambil hasil, tetapi juga belajar membudidayakan sagu sehingga populasinya tetap terjaga,” katanya.
Lunanka menegaskan, ke depan produksi sagu di Papua diharapkan mampu bersaing dengan komoditas pangan lainnya. Pada 2026, dukungan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia juga diarahkan pada program hilirisasi sagu. Program hilirisasi tersebut, kata dia, akan difokuskan di Kabupaten Waropen yang memiliki kawasan hutan sagu terluas kedua setelah Kabupaten Mamberamo Raya.