Saturday, April 11, 2026
30.7 C
Jayapura

Hutan Sagu Terendam, Warga Kesulitan Mencari Makanan

Melihat Dampak Naiknya Air Danau Di Kampung Yoboi

Setiap kali hujan turun, warga sibuk mengangkat barang untuk dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi, ingatan bencana Banjir Bandang Sentani 2019, mungkinkah terulang lagi.!

Laporan: Yohana_SENTANI

Jumat (3/4) Pagi itu, suasana di Kampung Yoboi terasa khidmat. Warga berkumpul di Gereja GKI Jemaat Maranatha Yoboi untuk mengikuti ibadah Jumat Agung mengenang wafatnya Yesus Kristus.

Di dalam gereja, doa-doa dipanjatkan dengan penuh penghayatan. Namun di luar, kecemasan perlahan tumbuh. Beberapa kaum bapak tampak bolak-balik keluar gereja.
Mata mereka tertuju ke arah Kali Yoboi yang mengalir deras. Aneh memang, karena hari itu hujan tidak turun. Tetapi air dari kali terus datang, membawa tumbuhan rawa dalam jumlah besar, mengalir menuju Danau Sentani dan membuat debit air semakin meningkat.

Baca Juga :  Penyebaran Malaria Meningkat,  Awal 2023  Ada 40 Ribu Kasus

Tanpa banyak bicara, para pria kampung segera bergerak. Mereka bergantian membersihkan jalur air, menarik tumpukan tumbuhan agar aliran tidak tersumbat. Mereka tahu, sedikit saja aliran terhambat, air bisa meluap lebih cepat ke permukiman.

Namun kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Hari-hari sebelumnya, hujan terus mengguyur wilayah Sentani. Setiap malam, warga hidup dalam kewaspadaan. Bapak-bapak dan mama-mama sibuk mengangkat barang ke tempat yang lebih tinggi ke loteng, ke atas meja, bahkan ke para-para darurat yang dibuat dari kulit batang sagu.

Perlahan, air mulai memasuki rumah-rumah. Dapur menjadi bagian pertama yang terendam. Air setinggi betis orang dewasa kini menggenangi ruang-ruang yang dulu menjadi tempat memasak dan berkumpul.

Baca Juga :  RSUD Yowari Alokasikan Dana Otsus Rp 2,5 M untuk Pengobatan OAP

Melihat Dampak Naiknya Air Danau Di Kampung Yoboi

Setiap kali hujan turun, warga sibuk mengangkat barang untuk dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi, ingatan bencana Banjir Bandang Sentani 2019, mungkinkah terulang lagi.!

Laporan: Yohana_SENTANI

Jumat (3/4) Pagi itu, suasana di Kampung Yoboi terasa khidmat. Warga berkumpul di Gereja GKI Jemaat Maranatha Yoboi untuk mengikuti ibadah Jumat Agung mengenang wafatnya Yesus Kristus.

Di dalam gereja, doa-doa dipanjatkan dengan penuh penghayatan. Namun di luar, kecemasan perlahan tumbuh. Beberapa kaum bapak tampak bolak-balik keluar gereja.
Mata mereka tertuju ke arah Kali Yoboi yang mengalir deras. Aneh memang, karena hari itu hujan tidak turun. Tetapi air dari kali terus datang, membawa tumbuhan rawa dalam jumlah besar, mengalir menuju Danau Sentani dan membuat debit air semakin meningkat.

Baca Juga :  Wacana Kabupaten Pasifik Raya Jadi Topik Hangat

Tanpa banyak bicara, para pria kampung segera bergerak. Mereka bergantian membersihkan jalur air, menarik tumpukan tumbuhan agar aliran tidak tersumbat. Mereka tahu, sedikit saja aliran terhambat, air bisa meluap lebih cepat ke permukiman.

Namun kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Hari-hari sebelumnya, hujan terus mengguyur wilayah Sentani. Setiap malam, warga hidup dalam kewaspadaan. Bapak-bapak dan mama-mama sibuk mengangkat barang ke tempat yang lebih tinggi ke loteng, ke atas meja, bahkan ke para-para darurat yang dibuat dari kulit batang sagu.

Perlahan, air mulai memasuki rumah-rumah. Dapur menjadi bagian pertama yang terendam. Air setinggi betis orang dewasa kini menggenangi ruang-ruang yang dulu menjadi tempat memasak dan berkumpul.

Baca Juga :  Keluarga, Lingkungan dan Sekolah Berperan Dalam Pembentukan Karakter Anak

Berita Terbaru

Artikel Lainnya