Jadi Alarm Akademik dan Sosial yang Harus Disikapi Secara Serius, Kritis, dan Konstruktif

Namun demikian ia mengatakan, proyeksi tersebut perlu dipahami secara hati-hati karena kondisi bahasa di Papua tidak homogen. “Ada bahasa yang masih kuat bertahan, ada yang mulai mengalami pergeseran, ada yang terancam punah, kritis, bahkan ada yang sudah punah,” ungkapnya.

Sebutnya, kepunahan bahasa daerah dipicu karena beberapa faktor diantaranya; jumlah penutur sangat kecil, tidak diwariskan kepada generasi muda, wilayah penggunaan terbatas, telah tergantikan oleh bahasa dominan dan mengalami penyempitan ranah pemakaian. Berdasarkan data situasi bahasa di Papua, sejumlah bahasa yang berada pada kategori sangat kritis antara lain; Bahasa Mapia, pernah tercatat hanya memiliki satu penutur aktif; Bahasa Bonerif, penuturnya sangat terbatas; Bahasa Saponi; Bahasa Woria; Bahasa Kanum Badi; Bahasa Kwerisa; Bahasa Dusner; Bahasa Kembra; Bahasa Mander; dan Bahasa Mor.

Baca Juga :  Dedi Hardono Gantikan JO Sembiring Jabat Danrem 172/PWY

Sementara itu, Bahasa Tandia bahkan telah dinyatakan punah karena tidak lagi memiliki penutur aktif. Bahasa-bahasa tersebut dapat dipandang sebagai kelompok bahasa dengan status moribund language, yakni bahasa yang tidak lagi diwariskan kepada generasi muda. Dalam teori pemertahanan bahasa Joshua Fishman, kondisi ini merupakan indikator utama menuju kematian bahasa (language death).

Menurutnya, benteng terakhir pelindungan bahasa daerah adalah keluarga. Jika dalam keluarga sudah tidak menggunakan bahasa daerah (bahasa ibu) dalam berkomunikasi, ancaman kepunahan suatu bahasa daerah akan terjadi. Salah satu penyebab bahasa daerah terancam punah adalah minimnya pewarisan bahasa daerah oleh oramg tua kepada anaknya atau generasi muda. “Orang tua lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya daripada bahasa daerah,” tuturnya.

Baca Juga :  1000 Honorer K2 Usia di Atas 35 Tahun Ditempatkan di DOB

Hal ini menyebabkan pembelajaran atau pengenalan kosakata bahasa daerah dalam lingkungan keluarga tidak terjadi sehingga generasi muda tidak mengenal kosakata-kosakata bahasa daerahnya. Selain itu, penyebab lain bahasa daerah di Papua punah adalah migrasi dan urbanisasi, tingginya arus migrasi dan urbanisasi penduduk ke wilayah perkotaan atau pesisir menyebabkan komunitas penutur asli bahasa daerah menjadi minoritas di tanah sendiri.

“Kematian penutur jati (generasi tua) yang menguasai atau yang fasih menggunakan bahasa daerah tanpa ada pewarisan bahasa kepada generasi muda menyebabkan bahasa daerah tersebut kehilangan penuturnya,” tambahnya.

Namun demikian ia mengatakan, proyeksi tersebut perlu dipahami secara hati-hati karena kondisi bahasa di Papua tidak homogen. “Ada bahasa yang masih kuat bertahan, ada yang mulai mengalami pergeseran, ada yang terancam punah, kritis, bahkan ada yang sudah punah,” ungkapnya.

Sebutnya, kepunahan bahasa daerah dipicu karena beberapa faktor diantaranya; jumlah penutur sangat kecil, tidak diwariskan kepada generasi muda, wilayah penggunaan terbatas, telah tergantikan oleh bahasa dominan dan mengalami penyempitan ranah pemakaian. Berdasarkan data situasi bahasa di Papua, sejumlah bahasa yang berada pada kategori sangat kritis antara lain; Bahasa Mapia, pernah tercatat hanya memiliki satu penutur aktif; Bahasa Bonerif, penuturnya sangat terbatas; Bahasa Saponi; Bahasa Woria; Bahasa Kanum Badi; Bahasa Kwerisa; Bahasa Dusner; Bahasa Kembra; Bahasa Mander; dan Bahasa Mor.

Baca Juga :  Perempuan Hebat Telah Teruji di Tengah Pandemi

Sementara itu, Bahasa Tandia bahkan telah dinyatakan punah karena tidak lagi memiliki penutur aktif. Bahasa-bahasa tersebut dapat dipandang sebagai kelompok bahasa dengan status moribund language, yakni bahasa yang tidak lagi diwariskan kepada generasi muda. Dalam teori pemertahanan bahasa Joshua Fishman, kondisi ini merupakan indikator utama menuju kematian bahasa (language death).

Menurutnya, benteng terakhir pelindungan bahasa daerah adalah keluarga. Jika dalam keluarga sudah tidak menggunakan bahasa daerah (bahasa ibu) dalam berkomunikasi, ancaman kepunahan suatu bahasa daerah akan terjadi. Salah satu penyebab bahasa daerah terancam punah adalah minimnya pewarisan bahasa daerah oleh oramg tua kepada anaknya atau generasi muda. “Orang tua lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya daripada bahasa daerah,” tuturnya.

Baca Juga :  100 Tim Ramaikan Futsal Super Papua Disorda 2023

Hal ini menyebabkan pembelajaran atau pengenalan kosakata bahasa daerah dalam lingkungan keluarga tidak terjadi sehingga generasi muda tidak mengenal kosakata-kosakata bahasa daerahnya. Selain itu, penyebab lain bahasa daerah di Papua punah adalah migrasi dan urbanisasi, tingginya arus migrasi dan urbanisasi penduduk ke wilayah perkotaan atau pesisir menyebabkan komunitas penutur asli bahasa daerah menjadi minoritas di tanah sendiri.

“Kematian penutur jati (generasi tua) yang menguasai atau yang fasih menggunakan bahasa daerah tanpa ada pewarisan bahasa kepada generasi muda menyebabkan bahasa daerah tersebut kehilangan penuturnya,” tambahnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya