Menangkap Makna dan Pesan Perjuangan dari Film “Pesta Babi”
Hampir seribu masyarakat yang datang menyaksikan pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Lapangan Tenis Angkasapura, Sabtu (16/5) malam. Masing-masing mereka yang menonton memiliki cerita dan pandangan tersendiri usai menonton. Lantas apa kata mereka seusai menonton?
Laporan: Elfira_Jayapura
Malam baru saja turun di Lapangan Tenis Angkasapura, Distrik Jayapura Utara, Sabtu (16/5). Lampu-lampu sederhana menerangi lapangan terbuka itu. Di sana, hampir seribu orang berkumpul. Ada pelajar yang datang berkelompok. Ada mama-mama Papua yang duduk di para-para jualan. Ada ASN yang memilih berdiri di sudut lapangan. Sebagian lain duduk lesehan di atas lapangan tenis tanpa alas.
Mereka datang bukan untuk konser musik atau pertandingan sepak bola. Mereka datang untuk menonton film dokumenter Pesta Babi, yang di beberapa daerah sempat dilarang pemutaran film ini. Di sejumlah daerah, pemutaran film itu memang sempat menuai penolakan. Ada yang menyebutnya kontroversial. Ada pula yang menganggapnya terlalu berani membuka luka Papua. Namun malam itu di Jayapura, layar putih justru menjadi magnet yang menarik ratusan pasang mata.
Tak ada kursi mewah, tak ada pendingin ruangan. Sesekali penonton bersorak. Teriakan paling keras pecah ketika wajah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia muncul di layar. Sorakan serupa kembali terdengar saat tokoh Papua, Natalius Pigai, tampil dalam salah satu adegan dokumenter. Beberapa penonton bahkan berdiri sambil menunjuk layar.
Produser film Pesta Babi, Victor Mambor mengatakan penolakan terhadap pemutaran film merupakan hal biasa. Namun, ia menilai tindakan pembubaran pemutaran film di sejumlah daerah tidak tepat.
“Kalau memang mau ditolak, seharusnya polisi yang membubarkan sesuai aturan. Tetapi yang terjadi di lapangan justru tentara yang datang membubarkan. Itu tidak pada tempatnya,” ucapnya kepada Cenderawasih Pos.
Victor juga menanggapi pernyataan terkait kewajiban sensor film sebelum diputar ke publik. Menurutnya, pemutaran film dokumenter untuk masyarakat tidak berbeda dengan kegiatan nonton bareng lainnya.
“Apa bedanya dengan nobar sepak bola Piala Dunia nanti? Kalau pemutaran film ini dibubarkan, maka nobar Piala Dunia juga harus dibubarkan. Jangan tanpa dasar lalu seenaknya membubarkan,” katanya.
Ia menyebut Pesta Babi merupakan film yang dibuat untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait berbagai persoalan di Papua berdasarkan data dan fakta yang dihimpun tim produksi.
“Film ini bukan hanya bicara soal kekerasan, tetapi juga tentang Papua dan berbagai peristiwa yang mempengaruhi orang Papua selama ini,” ujarnya.