Dari situ, penonton diajak melihat bagaimana pembangunan yang disebut membawa kemajuan justru memunculkan keresahan bagi masyarakat adat yang hidupnya sangat bergantung pada hutan dan tanah Papua. Seiring berjalannya cerita, film ini memperlihatkan berbagai bentuk perlawanan masyarakat Papua terhadap proyek tersebut. Mulai dari pemasangan salib raksasa, palang adat, sampai munculnya Gerakan Salib Merah yang menyebar di wilayah selatan Papua sebagai simbol penolakan terhadap perusahaan dan militer yang masuk ke tanah adat mereka.
Lewat momen-momen itu, penonton diajak melihat bagaimana masyarakat adat berusaha mempertahankan ruang hidup sekaligus identitas budaya di wilayah mereka. Melalui simbol tradisi pesta babi yang erat dengan makna kehormatan dan persaudaraan, film ini juga menggambarkan hubungan kuat masyarakat Papua dengan alamnya. Penonton tidak hanya disuguhkan soal konflik pembangunan dan kerusakan hutan, tetapi juga diajak memahami sudut pandang masyarakat adat yang merasa masa depan mereka ikut terancam. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Dari situ, penonton diajak melihat bagaimana pembangunan yang disebut membawa kemajuan justru memunculkan keresahan bagi masyarakat adat yang hidupnya sangat bergantung pada hutan dan tanah Papua. Seiring berjalannya cerita, film ini memperlihatkan berbagai bentuk perlawanan masyarakat Papua terhadap proyek tersebut. Mulai dari pemasangan salib raksasa, palang adat, sampai munculnya Gerakan Salib Merah yang menyebar di wilayah selatan Papua sebagai simbol penolakan terhadap perusahaan dan militer yang masuk ke tanah adat mereka.
Lewat momen-momen itu, penonton diajak melihat bagaimana masyarakat adat berusaha mempertahankan ruang hidup sekaligus identitas budaya di wilayah mereka. Melalui simbol tradisi pesta babi yang erat dengan makna kehormatan dan persaudaraan, film ini juga menggambarkan hubungan kuat masyarakat Papua dengan alamnya. Penonton tidak hanya disuguhkan soal konflik pembangunan dan kerusakan hutan, tetapi juga diajak memahami sudut pandang masyarakat adat yang merasa masa depan mereka ikut terancam. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q