Lebih jauh, kepala Balai Bahasa Papua itu mengatakan, kepunahan bahasa bukan sekadar hilangnya seperangkat kosakata atau alat komunikasi. Dalam perspektif antropologi linguistik, kepunahan bahasa berarti hilangnya sistem pengetahuan manusia. Dengan demikian, kata Valentina pernyataan Dr. Laura Arnold patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian akademik terhadap masa depan bahasa-bahasa Papua. Namun, prediksi ancaman kepunahan bahasa hendaknya tidak dipahami secara fatalistik, melainkan sebagai peringatan untuk memperkuat upaya pelindungan.
Masa depan bahasa daerah Papua sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah penuturnya, tetapi terutama oleh kemauan sosial masyarakat untuk tetap mewariskan bahasa itu kepada generasi berikutnya. Bahasa dapat bertahan bukan semata karena banyak penuturnya, melainkan karena ada kebanggaan, loyalitas, pewarisan, dan kebijakan yang menopangnya.
“Jika keluarga, masyarakat adat, lembaga pendidikan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, gereja, dan lembaga kebahasaan bergerak bersama, maka bahasa-bahasa Papua tidak hanya dapat diselamatkan, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai fondasi identitas dan peradaban orang Papua,” tutupnya. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Lebih jauh, kepala Balai Bahasa Papua itu mengatakan, kepunahan bahasa bukan sekadar hilangnya seperangkat kosakata atau alat komunikasi. Dalam perspektif antropologi linguistik, kepunahan bahasa berarti hilangnya sistem pengetahuan manusia. Dengan demikian, kata Valentina pernyataan Dr. Laura Arnold patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian akademik terhadap masa depan bahasa-bahasa Papua. Namun, prediksi ancaman kepunahan bahasa hendaknya tidak dipahami secara fatalistik, melainkan sebagai peringatan untuk memperkuat upaya pelindungan.
Masa depan bahasa daerah Papua sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah penuturnya, tetapi terutama oleh kemauan sosial masyarakat untuk tetap mewariskan bahasa itu kepada generasi berikutnya. Bahasa dapat bertahan bukan semata karena banyak penuturnya, melainkan karena ada kebanggaan, loyalitas, pewarisan, dan kebijakan yang menopangnya.
“Jika keluarga, masyarakat adat, lembaga pendidikan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, gereja, dan lembaga kebahasaan bergerak bersama, maka bahasa-bahasa Papua tidak hanya dapat diselamatkan, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai fondasi identitas dan peradaban orang Papua,” tutupnya. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q