Luapan Konya Perlu Ditelusuri dari Hulu, Pasar Yotefa Belum Terintegrasinya Sistem Drainase

Jelasnya, dari perencanaan ini, pemerintah dapat menentukan pilihan solusi fisik yang tepat, baik berupa redesain dimensi saluran, pembuatan gorong-gorong baru, penyediaan kolam retensi, pembangunan sumur resapan yang disesuaikan dengan karakteristik tanah setempat, hingga pemulihan kembali jalur aliran air alami yang terganggu oleh bangunan.

“​Langkah ketiga yang tidak kalah penting adalah pembentukan koordinasi yang kuat antarinstansi. Pemerintah Kota Jayapura, Pemerintah Provinsi Papua, Balai Wilayah Sungai Papua, serta dinas teknis yang menangani infrastruktur jalan harus duduk bersama untuk menyepakati pembagian tugas, alokasi anggaran, jadwal pemeliharaan rutin, hingga penetapan indikator keberhasilan yang jelas,” sarannya dengan tegas.

​Sebagai penutup, Sarah menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan penanganan banjir di Kota Jayapura sama sekali tidak ditentukan dari berapa kali aktivitas pengerukan selokan dilakukan dalam setahun. Keberhasilan yang nyata baru bisa dirasakan ketika kedalaman air, luas area terdampak, dan durasi genangan berkurang secara signifikan, sehingga kerugian sosial ekonomi masyarakat dapat ditekan.

Baca Juga :  Kaget Dilarang Datang ke Hotel Bapaknya, Semua Aset Ternyata Sudah Dialihkan

Seluruh upaya penanganan harus didasarkan pada data ilmiah yang valid dan dilakukan secara berkelanjutan, tanpa memindahkan risiko atau dampak banjir ke kawasan pemukiman lainnya. “Ditangani harus berkelanjutan, artinya tidak menunggu terjadi musibah baru alat diturunkan tapi harus terus dikerjakan agar tuntas. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Jelasnya, dari perencanaan ini, pemerintah dapat menentukan pilihan solusi fisik yang tepat, baik berupa redesain dimensi saluran, pembuatan gorong-gorong baru, penyediaan kolam retensi, pembangunan sumur resapan yang disesuaikan dengan karakteristik tanah setempat, hingga pemulihan kembali jalur aliran air alami yang terganggu oleh bangunan.

“​Langkah ketiga yang tidak kalah penting adalah pembentukan koordinasi yang kuat antarinstansi. Pemerintah Kota Jayapura, Pemerintah Provinsi Papua, Balai Wilayah Sungai Papua, serta dinas teknis yang menangani infrastruktur jalan harus duduk bersama untuk menyepakati pembagian tugas, alokasi anggaran, jadwal pemeliharaan rutin, hingga penetapan indikator keberhasilan yang jelas,” sarannya dengan tegas.

​Sebagai penutup, Sarah menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan penanganan banjir di Kota Jayapura sama sekali tidak ditentukan dari berapa kali aktivitas pengerukan selokan dilakukan dalam setahun. Keberhasilan yang nyata baru bisa dirasakan ketika kedalaman air, luas area terdampak, dan durasi genangan berkurang secara signifikan, sehingga kerugian sosial ekonomi masyarakat dapat ditekan.

Baca Juga :  Belum Dikelola Secara Optimal, Kontribusi Terhadap PAD Masih Rendah

Seluruh upaya penanganan harus didasarkan pada data ilmiah yang valid dan dilakukan secara berkelanjutan, tanpa memindahkan risiko atau dampak banjir ke kawasan pemukiman lainnya. “Ditangani harus berkelanjutan, artinya tidak menunggu terjadi musibah baru alat diturunkan tapi harus terus dikerjakan agar tuntas. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya