Luapan Konya Perlu Ditelusuri dari Hulu, Pasar Yotefa Belum Terintegrasinya Sistem Drainase

Menurutnya, pembenahan tidak boleh lagi dilakukan secara parsial, melainkan harus mencakup evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase, daerah tangkapan air, perubahan tutupan lahan, sedimentasi, manajemen sampah, tata ruang, hingga kondisi saluran pembuangan akhir.

“Banjir yang berulang di lokasi yang sama menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase, daerah tangkapan air, perubahan tutupan lahan, sedimentasi, sampah, tata ruang, dan saluran pembuangan akhir. Penanganan tidak cukup dilakukan dengan pengerukan selokan setiap kali hujan,” kata Sarah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/10).

​Dalam kacamata akademisi, Sarah menjelaskan bahwa terdapat beberapa wilayah kritis di Kota Jayapura yang mendesak untuk dievaluasi secara menyeluruh. Kawasan Organda dan Kolam Konya di Distrik Heram, misalnya, membutuhkan penelusuran aliran air secara terperinci dari hulu hingga ke hilir guna mendeteksi penyempitan saluran, laju sedimentasi, serta tingkat penyumbatan akibat sampah.

Baca Juga :  Hampir Setiap Hari Kena Liur Anjing, Anggap yang Penting Bukan Dosa Besar

Sementara itu, kawasan di depan CV Thomas Entrop memerlukan audit mendalam pada kapasitas drainase, gorong-gorong, serta kontur elevasi saluran agar air dapat mengalir lancar menuju saluran penerima tanpa mengalami hambatan. ​Titik rawan lainnya yang juga memprihatinkan kata akademisi USTJ itu adalah kawasan Pasar Youtefa dan Kali Acai di Abepura.

Di lokasi ini, pendangkalan sungai dan tumpukan sampah yang parah menjadi pemicu utama berkurangnya kapasitas tampung sungai, ditambah belum terintegrasinya sistem drainase pasar dengan badan air utama. Hal serupa terjadi di kawasan Entrop dan Papua Trade Center, tempat evaluasi kapasitas saluran per ruas serta keselarasan elevasi jalan perlu dikaji ulang. Adapun di wilayah Perumnas IV dan Padang Bulan, pemetaan cekungan serta penataan pemukiman menjadi krusial mengingat pesatnya pembangunan rumah yang mengurangi area resapan dan meningkatkan debit air permukaan.

Baca Juga :  Ketidakpastian Dana KPS, Dua Pasien Terbengkalai

Menurutnya, pembenahan tidak boleh lagi dilakukan secara parsial, melainkan harus mencakup evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase, daerah tangkapan air, perubahan tutupan lahan, sedimentasi, manajemen sampah, tata ruang, hingga kondisi saluran pembuangan akhir.

“Banjir yang berulang di lokasi yang sama menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase, daerah tangkapan air, perubahan tutupan lahan, sedimentasi, sampah, tata ruang, dan saluran pembuangan akhir. Penanganan tidak cukup dilakukan dengan pengerukan selokan setiap kali hujan,” kata Sarah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/10).

​Dalam kacamata akademisi, Sarah menjelaskan bahwa terdapat beberapa wilayah kritis di Kota Jayapura yang mendesak untuk dievaluasi secara menyeluruh. Kawasan Organda dan Kolam Konya di Distrik Heram, misalnya, membutuhkan penelusuran aliran air secara terperinci dari hulu hingga ke hilir guna mendeteksi penyempitan saluran, laju sedimentasi, serta tingkat penyumbatan akibat sampah.

Baca Juga :  Dishub Resmi Ambil Alih Pengelolaan Retribusi Parkiran

Sementara itu, kawasan di depan CV Thomas Entrop memerlukan audit mendalam pada kapasitas drainase, gorong-gorong, serta kontur elevasi saluran agar air dapat mengalir lancar menuju saluran penerima tanpa mengalami hambatan. ​Titik rawan lainnya yang juga memprihatinkan kata akademisi USTJ itu adalah kawasan Pasar Youtefa dan Kali Acai di Abepura.

Di lokasi ini, pendangkalan sungai dan tumpukan sampah yang parah menjadi pemicu utama berkurangnya kapasitas tampung sungai, ditambah belum terintegrasinya sistem drainase pasar dengan badan air utama. Hal serupa terjadi di kawasan Entrop dan Papua Trade Center, tempat evaluasi kapasitas saluran per ruas serta keselarasan elevasi jalan perlu dikaji ulang. Adapun di wilayah Perumnas IV dan Padang Bulan, pemetaan cekungan serta penataan pemukiman menjadi krusial mengingat pesatnya pembangunan rumah yang mengurangi area resapan dan meningkatkan debit air permukaan.

Baca Juga :  Belum Berpotensi Banjir, Waspadai Puncak Hujan di Februari

Berita Terbaru

Artikel Lainnya