Catatan Akademisi Terkait Penanganan Banjir di Jayapura yang Terkesan Tak Tuntas
Banjir nampaknya sudah seperti hal yang lumrah di Kota Jayapura. Curah hujan tinggi dengan durasu dua atau tiga jam saja dipastikan Kota Jayapura banyak yang terendam. Pemerintah dalam penanganannya juga tak secara utuh. Akademisi angkat bicara
Laporan: Jimi Karlodi_Jayapura
Persoalan banjir dan genangan air yang terus berulang di sejumlah wilayah Kota Jayapura hingga kini belum menemukan titik terang. Pola penanganan yang selama ini cenderung bersifat kasuistis, seperti sekadar mengeruk endapan lumpur atau membersihkan sampah di saluran air setiap kali hujan deras turun, dinilai tidak lagi efektif untuk mengatasi akar masalah secara permanen.
Lihat saja genangan yang terjadi di Pasar Yotefa, Perum Organda hingga luapan air di Pertigaan Lampu Merah Otonom maupun di depan CV Thomas Entrop. Ini seperti sudah menjadi langganan kecika curah hujan tinggi. Mirisnya, walikota ganti walikota masalahnya masih itu-itu saja. Seperti tidak ada hasil yang tiba-tiba berhenti atau berubah total.
Masyarakat akhirnya hanya disodorkan dengan situasi dan kondisi hati seperti ya terima sajalah, namanya juga bencana alam yang tidak bisa diprediksi. Merespon persoalan itu, Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Sarah A. Rumawak, mengungkapkan bahwa fenomena banjir yang kembali terjadi di titik-titik yang sama menandakan adanya kegagalan sistemik pada tata kelola air perkotaan.
Catatan Akademisi Terkait Penanganan Banjir di Jayapura yang Terkesan Tak Tuntas
Banjir nampaknya sudah seperti hal yang lumrah di Kota Jayapura. Curah hujan tinggi dengan durasu dua atau tiga jam saja dipastikan Kota Jayapura banyak yang terendam. Pemerintah dalam penanganannya juga tak secara utuh. Akademisi angkat bicara
Laporan: Jimi Karlodi_Jayapura
Persoalan banjir dan genangan air yang terus berulang di sejumlah wilayah Kota Jayapura hingga kini belum menemukan titik terang. Pola penanganan yang selama ini cenderung bersifat kasuistis, seperti sekadar mengeruk endapan lumpur atau membersihkan sampah di saluran air setiap kali hujan deras turun, dinilai tidak lagi efektif untuk mengatasi akar masalah secara permanen.
Lihat saja genangan yang terjadi di Pasar Yotefa, Perum Organda hingga luapan air di Pertigaan Lampu Merah Otonom maupun di depan CV Thomas Entrop. Ini seperti sudah menjadi langganan kecika curah hujan tinggi. Mirisnya, walikota ganti walikota masalahnya masih itu-itu saja. Seperti tidak ada hasil yang tiba-tiba berhenti atau berubah total.
Masyarakat akhirnya hanya disodorkan dengan situasi dan kondisi hati seperti ya terima sajalah, namanya juga bencana alam yang tidak bisa diprediksi. Merespon persoalan itu, Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Sarah A. Rumawak, mengungkapkan bahwa fenomena banjir yang kembali terjadi di titik-titik yang sama menandakan adanya kegagalan sistemik pada tata kelola air perkotaan.