Dari Mabuk Alkohol ke “Mabuk Buku”, Mecky Tebai Inisiasi Gerakan Literasi di Kompleks Mapiduba, Nabire
Tak mudah untuk merubah paradigma yang sudah berjalan bertahun-tahun. Ditambah faktor lingkungan yang tak sepenuhnya mendukung untuk melakukan gebrakan. Mecky Tebai tak putus asa. Dengan caranya sederhananya ia menularkan minat membaca buku.
Laporan: Theresia Tekege_Nabire
Berangkat dari keprihatinan melihat anak-anak muda yang tumbuh di tengah lingkungan yang lekat dengan minuman keras, Mecky Tebai memilih menghadirkan harapan melalui jalan yang sederhana; membaca buku. Melalui Rumah Inspirasi Kebadabi, ia menginisiasi gerakan MABUK (Mari Baca Buku di Kompleks) sebagai upaya mengubah kebiasaan anak-anak muda di Jalan Baru Mapiduba, Kabupaten Nabire, dari mabuk alkohol menjadi “mabuk buku”.
Gerakan itu lahir bukan tanpa alasan. Bagi sebagian masyarakat Nabire, Jalan Baru Mapiduba selama ini dikenal sebagai kawasan yang identik dengan minuman keras dan berbagai persoalan sosial. Namun di balik stigma tersebut, Mecky melihat banyak anak muda yang sebenarnya hanya membutuhkan kesempatan untuk belajar dan mendapatkan perhatian.
“Saya melihat masa depan mereka sedang terancam” kata Mecky, saat diwawancarai, Selasa (4/8). Ia mengaku tergerak setelah melihat banyak anak muda yang menghabiskan hari-harinya dengan mengonsumsi minuman keras. Di sisi lain, masih banyak anak yang putus sekolah, bahkan anak-anak kecil yang tumbuh di tengah lingkungan yang keras.
“Di Jalan Baru Mapiduba ini cukup banyak anak-anak muda yang hidupnya hanya di alkohol. Tingkat anak yang tidak sekolah juga cukup tinggi. Tiap hari hanya duduk mabuk putar gelas alkohol. Anak-anak kecil pegang lem aibon dan hidupnya keras sekali. Itu yang membuat saya tergerak membuat program ini,” bebernya.
Menurutnya, istilah MABUK sengaja dipilih karena sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Kompleks Mapiduba. Namun, makna kata tersebut ingin diubah menjadi sesuatu yang membawa harapan. “Orang di luar kompleks bahkan satu Kota Nabire mengenal anak-anak Jalan Baru Mapiduba sebagai anak-anak kepala mabuk. Karena itu saya ingin menukar istilah itu. Mari kita mabuk buku, bukan mabuk alkohol,” ujarnya.
Mecky percaya perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Baginya, ketika seorang anak mulai membuka sebuah buku, saat itu pula ia sedang membuka peluang untuk mengubah masa depannya. “Saya percaya perubahan akan datang ketika kita mampu mencuri waktu mereka untuk membaca buku dan mengajak mereka berdiskusi. Saat mereka membaca, mereka akan sadar bahwa sebenarnya mereka juga ingin belajar,” tambahnya.
Setiap sore, aktivitas dimulai dari Rumah Inspirasi Kebadabi. Air dipanaskan untuk membuat kopi sebelum Mecky bersama para relawan membawa puluhan buku menuju lokasi yang selama ini dikenal sebagai tempat berkumpul anak-anak muda mengonsumsi minuman keras. Di tempat itu tidak ada ruang kelas yang megah ataupun fasilitas yang mewah. Hanya ada buku-buku yang dibentangkan di pinggir jalan raya, diskusi kecil yang hangat, dan semangat untuk belajar bersama.