Seluruh buku yang digunakan merupakan koleksi pribadi Mecky. Hingga kini tersedia sekitar 80 buku, terdiri dari 25 novel remaja, 20 buku motivasi dan inspirasi, 20 buku pengetahuan umum, serta 15 buku bertema Papua. “Semuanya buku pribadi yang saya beli untuk saya baca sendiri. Walaupun belum banyak, itu tidak mengurangi sukacita saya mengajak mereka membaca,” katanya.
Dalam perjalanannya, Mecky menyadari persoalan di Kompleks Mapiduba bukan hanya soal alkohol. Ia menemukan masih banyak Anak Tidak Sekolah (ATS) akibat pengaruh lingkungan dan kondisi ekonomi keluarga. “Tingkat Anak Tidak Sekolah di Kompleks Mapiduba ini cukup tinggi. Mereka tidak bersekolah karena pengaruh lingkungan yang cukup besar, ditambah kondisi ekonomi orang tua yang lemah. Bahkan yang sudah sekolah pun belum tentu bisa membaca,” ungkapnya.
Yang paling membuatnya prihatin adalah ketika melihat anak-anak kehilangan masa kecilnya. “Hari-harinya mereka hanya melihat kakak-kakak kompleks mabuk, membuat kekacauan, jalan malam sampai subuh. Waktu bermain mereka sudah dirampas oleh kondisi kompleks ini. Karena itu kami mengajarkan calistung sekaligus membimbing mereka membaca supaya mereka punya bekal untuk masa depan,” bebernya.
Melihat kondisi tersebut, Rumah Inspirasi Kebadabi juga membentuk kelompok belajar yang baru berjalan sejak Sabtu pekan lalu. Kegiatan dilaksanakan setiap Selasa sore dengan membagi peserta ke dalam tiga kelompok, yakni: Program MABUK (Mari Baca Buku di Kompleks) bagi remaja, pemuda, dan masyarakat umum.
“Kami ingin semua bisa belajar sesuai usia mereka. Anak-anak belajar membaca, remaja tetap sekolah, sementara pemuda dan masyarakat kami ajak membaca dan berdiskusi,” ujarnya. Gerakan tersebut perlahan mulai menunjukkan hasil. Anak-anak muda yang sebelumnya menghabiskan waktu dengan minuman keras kini mulai datang membantu menyiapkan kegiatan, membaca buku, hingga berdiskusi bersama.
Bahkan, Mecky mempercayakan kepengurusan Program MABUK kepada lima pemuda kompleks yang dahulu dikenal paling sulit diatur ketika mabuk alkohol. “Saya percaya mereka juga bisa menjadi agen perubahan. Sekarang kami bergerak bersama. Orang tua juga terus kami libatkan agar mendukung anak-anak mereka,” sambungnya.
Ke depan, ia berharap Perpustakaan Rumah Inspirasi Kebadabi dapat menjadi pusat belajar masyarakat Kompleks Mapiduba sehingga setiap anak memiliki akses terhadap buku dan pendidikan.
Menurut Mecky, menyelamatkan generasi muda tidak selalu harus melalui program-program besar. “Pemerintah tidak harus berpikir yang besar untuk menyelamatkan generasi. Hal-hal kecil yang sering tidak kita lihat justru menjadi ancaman paling besar. Program ini membutuhkan dukungan pemerintah, sekolah, dan masyarakat agar kita bersama-sama peduli terhadap anak-anak muda yang hari ini kehilangan arah,” katanya.
“Kami igin dikenal sebagai anak-anak yang mabuk buku,” imbuhnya.