Dari Perayaan 112 Tahun Injil Masuk di Skouw Yambe Distrik Muara Tami
Tak hanya Pekabaran Injil di Port Numbay yang selalu dikenang umat Kristen di Kota Jayapura. Secara khusus masyarakat tiga Kampung Skouw juga punya sejarah injil masuk, yang kini sudah memasuki 112 tahun. Seperti apa awal dan perkembangan Kekristenan di Skouw ini?
Laporan: Mustakim Ali
Angin dari pesisir Skouw Yambe berembus pelan pada Senin (14/9) sore. Di kampung yang berada di kawasan perbatasan Indonesia–Papua Nugini itu, sebuah perjalanan panjang kembali dikenang.
Bukan sekadar tentang usia sebuah kampung, tetapi tentang sebuah benih iman yang pertama kali ditanam sejak 112 tahun silam. Dimana pada 14 September 1914 menjadi tonggak sejarah masuknya Injil di pesisir Skouw Yambe, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura.
Dari tempat sederhana itu, berita Injil perlahan menyebar dari rumah adat, dari satu keluarga ke keluarga lainnya, hingga akhirnya menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di tiga kampung Skouw, yakni Skouw Yambe, Skouw Sae dan Skouw Mabo.
Perjalanan tersebut kembali diperingati dalam Ibadah Perayaan 112 Tahun Injil Masuk Skouw, yang dipusatkan di Skouw Yambe, Senin (14/9). Bagi masyarakat Skouw Yambe, peringatan ini bukan sekadar seremonial. Ada sejarah panjang yang harus terus diceritakan kepada generasi berikutnya.
Kisah itu bermula dari seorang pemimpin adat Skouw pada masa lalu, Ondoafi Ante Rollo.
Ia melihat perubahan kehidupan masyarakat di Pulau Metu Debi setelah menerima Injil. Dari pengalaman tersebut tumbuh keinginan dalam hatinya agar masyarakat Skouw juga mendapatkan pengajaran mengenai kehidupan dan firman Tuhan.
Seorang guru penginjil, Agustinus Yohanis Nanuleta, diutus menuju Skouw. Ia didampingi guru-guru penginjil dari Tobati dan Enggros, Laurenz Mano dan Laurenz Hanasbey.
Di tempat itulah, pada 14 September 1914, berita Injil mulai disampaikan kepada masyarakat.