Pada mulanya, belum ada bangunan gereja. Nanuleta kemudian diterima masyarakat dan tinggal di rumah adat. Di rumah adat itulah firman Tuhan mulai disampaikan.
Namun terdapat sebuah keterbatasan. Rumah adat pada masa itu hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Perempuan tidak diperbolehkan masuk.
Karena itu, apa yang disampaikan oleh guru penginjil kemudian diteruskan oleh para laki-laki kepada keluarga masing-masing. Perlahan, firman itu bergerak dari rumah adat menuju rumah-rumah warga.
Salah satu bagian paling menarik dari sejarah masuknya Injil di Skouw adalah ketika tiba waktunya pelaksanaan baptisan. Bahkan, ketika diajarkan tentang baptisan, sebagian masyarakat masih ragu dan tidak bersedia menyerahkan anak-anak mereka untuk dibaptis.
Di tengah keraguan itu, Ondoafi Ante Rollo mengambil sebuah keputusan penting. Ia memberikan dua anaknya sendiri untuk menjadi yang pertama dibaptis di Skouw. Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan kekristenan di wilayah Skouw. Dari sana, Injil semakin diterima. Pelayanan berkembang dan kemudian bergerak menuju kampung-kampung lainnya.
Hingga hari ini, benih yang ditanam di pesisir Skouw Yambe telah melewati perjalanan selama 112 tahun. Di tengah perayaan ini, Wali Kota Jayapura Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H., yang juga merupakan Ondoafi Skouw Yambe, mengisahkan perjalanan hidupnya.
Baginya, perjalanan hidup yang telah dilaluinya tidak dapat dilepaskan dari iman dan pekerjaan Tuhan. Abisai mengenang ketika dirinya dua kali gagal dalam perjalanan politiknya pada 2009 dan pemilihan ulang 2010.
Kegagalan tersebut justru membawanya kembali ke kampung dan gereja. Di gereja, ia mengaku sempat bertanya kepada Tuhan apakah dirinya masih melakukan kesalahan atau memiliki dosa. Namun dari titik itulah perjalanan hidupnya kemudian berubah.
Pada 2010, ketika masyarakat Skouw mempersiapkan pembangunan gereja untuk memperingati satu abad masuknya Injil pada 2014, Abisai dipercaya menjadi ketua panitia.
Di tengah kondisi yang ada, ia bersama masyarakat berjuang menyelesaikan pembangunan gereja tersebut.