Menilik Perjuangan Seorang Penyandang Disabilitas di Dunia Perbengkelan di Jayapura
Sebagai penyandang disabilitas ternyata tak membuat hidup berhenti begitu saja. Sikap pantang menyerah dan terus mencoba ditunjukkan seorang pemuda bernama Nawir. Meski hanya memiliki 1 kaki namun pantang baginya hidup meminta-minta. Ini dibuktikan dengan setiap hari bekerja di bengkel kecilnya di Lampu Merah Hamadi.
Laporan: Abdel Gamel Naser_Jayapura
Perpampang jelas bendera merah putih di bagian depan kontainer berwarna gelap yang berjejer dengan tepian jurang di pertigaan Lampu Merah Pasar Sentral Hamadi. Bendera ini seperti menyampaikan pesan bahwa ada kebanggaan sebagai pemuda bangsa yang enggan menyerah dengan keadaan.
Dan jika mendekat ke bengkelnya maka terdengar alunan merdu lafaz Quran. Yang diputar ketika itu adalah Surah Yasin. Bagi umat Islam mendengar ini secara otomatis akan menenangkan hati. Sesulit apapun situasi jika diresapi arti dari surah ini maka perasaan tenang akan menyatu.
Ya, mungkin dengan cara itu pria bernama Nawir ini bisa merasa tenang usai diterpa musibah. Bagaimana tidak, Minggu malam (20/9) malam bengkel mungilnya yang berada di pinggir jalan dibobol maling. Bengkel yang menjadi tempat penghidupan dia dan keluarganya. Lokasi bengkelnya ini juga tak sulit karena berada di pinggir jalan poros utama. Jika melintas di Hamadi menuju Jayapura maka dipastikan akan melewati bengkelnya.
Posisinya tak jauh dari lampu merah menuju Pasar Sentral Hamadi. Letaknya tak jauh dari bak sampah. Terkait kejadian pembobolan bengkelnya Nawir sendiri baru mengetahui kejadian ini pada Senin (21/9) pagi saat akan membuka bengkel.
“Saya datang Senin pagi dan waktu mau buka pintu saya lihat sudah ada bekas congkelan. Saya mulai cemas dan ternyata betul, semua barang diangkut,” ujar Nawir kepada dengan nada lemas kepada Cenderawasih Pos Selasa (22/9).
Menilik Perjuangan Seorang Penyandang Disabilitas di Dunia Perbengkelan di Jayapura
Sebagai penyandang disabilitas ternyata tak membuat hidup berhenti begitu saja. Sikap pantang menyerah dan terus mencoba ditunjukkan seorang pemuda bernama Nawir. Meski hanya memiliki 1 kaki namun pantang baginya hidup meminta-minta. Ini dibuktikan dengan setiap hari bekerja di bengkel kecilnya di Lampu Merah Hamadi.
Laporan: Abdel Gamel Naser_Jayapura
Perpampang jelas bendera merah putih di bagian depan kontainer berwarna gelap yang berjejer dengan tepian jurang di pertigaan Lampu Merah Pasar Sentral Hamadi. Bendera ini seperti menyampaikan pesan bahwa ada kebanggaan sebagai pemuda bangsa yang enggan menyerah dengan keadaan.
Dan jika mendekat ke bengkelnya maka terdengar alunan merdu lafaz Quran. Yang diputar ketika itu adalah Surah Yasin. Bagi umat Islam mendengar ini secara otomatis akan menenangkan hati. Sesulit apapun situasi jika diresapi arti dari surah ini maka perasaan tenang akan menyatu.
Ya, mungkin dengan cara itu pria bernama Nawir ini bisa merasa tenang usai diterpa musibah. Bagaimana tidak, Minggu malam (20/9) malam bengkel mungilnya yang berada di pinggir jalan dibobol maling. Bengkel yang menjadi tempat penghidupan dia dan keluarganya. Lokasi bengkelnya ini juga tak sulit karena berada di pinggir jalan poros utama. Jika melintas di Hamadi menuju Jayapura maka dipastikan akan melewati bengkelnya.
Posisinya tak jauh dari lampu merah menuju Pasar Sentral Hamadi. Letaknya tak jauh dari bak sampah. Terkait kejadian pembobolan bengkelnya Nawir sendiri baru mengetahui kejadian ini pada Senin (21/9) pagi saat akan membuka bengkel.
“Saya datang Senin pagi dan waktu mau buka pintu saya lihat sudah ada bekas congkelan. Saya mulai cemas dan ternyata betul, semua barang diangkut,” ujar Nawir kepada dengan nada lemas kepada Cenderawasih Pos Selasa (22/9).