“Saya bekerja bukan untuk cari uang lalu beli minuman, saya harus membeli susu untuk anak dan makan keluarga, tanggungan saya besar,” sambungnya.
Nawir juga memiliki seorang bayi yang setiap hari harus diberi susu. Ia menyinggung jika pelaku masih diberi kelengkapan anggota tubuh seharusnya malu. Harusnya bisa bekerja lebih ekstra dan gigih, bukannya mencuri dan merugikan orang lain.
“Ini usaha saya satu-satunya yang saya coba rintis tapi sudah beberapa kali dibuat begini,” tutupnya.
Menariknya, meski berstatus disabilitas, Nawir ternyata masih tergabung dalam tim Peparnas Papua. Ia memiliki kelebihan di bidang atletik.
“Ia ini kemarin sempat ditanya untuk ikut latihan,” sambungnya. Pemuda kelahiran 1988 ini lantas menceritakan awal dirinya kehilangan kaki kirinya.
“Itu tahun 2016 saat itu lagi di pelabuhan Biak dan belajar forklip sama teman. Saat jalan ternyata ada lubang dan ban depan sudah lewati lubangnya karena ukuran ban depan cukup besar tapi ban belakang ini yang terperosok kemudian miring,” kenangnya. Saat miring itulah ia yang berdiri disamping rekannya ini memilih melompat namun tidak tahu harus ke arah mana.
Dan sialnya disaat itu juga alat yang biasa digunakan untuk mengangkat dan memindahkan boks kontainer ini roboh dan menimpa tubuhnya. “Saya sudah tidak tahu harus melompat kemana dan tiba-tiba alat itu menimpa paha saya dan disitulah patah sehingga harus diamputasi,” ceritanya.
Meski begitu Nawir tak ingin patah semangat karena menurutnya hidup ditentukan dari kerja keras, ketekunan, pantang menyerah serta keyakinan. “Yah mau bagaimana lagi. Hidup harus dijalani dan saya tidak mau melihat ke belakang,” tutupnya. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q