Indonesia Butuh Keseimbangan Antara Pertumbuhan dan Stabilitas

​Meski IHSG berangsur pulih, Entar mengingatkan adanya risiko jangka pendek yang perlu diwaspadai akibat arus keluar modal asing (net sell) yang sempat mencatatkan angka Rp3,36 triliun. ​Dampak lanjutannya adalah kurs rupiah yang tertekan sehingga Bank Indonesia harus menjaga suku bunga lebih tinggi. Ini menciptakan dilema suku bunga tinggi diperlukan untuk menstabilkan rupiah, namun di sisi lain dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

​Di akhir pemaparannya, Entar merangkum sejumlah poin utama yang patut dijadikan pelajaran berharga bagi pemerintah ke depan. ​Pelajaran penting pertama adalah krusialnya stabilitas kepemimpinan, sebab kepemimpinan yang stabil di Kementerian Keuangan sangat menentukan kredibilitas kebijakan fiskal di mata investor global.

Baca Juga :  Kajati Pertama OAP, Bukti Orang Papua Bisa

Pelajaran kedua menekankan matangnya perencanaan birokrasi, di mana rotasi jabatan struktural skala besar terutama Eselon II dan III harus memperhitungkan kesinambungan administrasi, khususnya jelang penutupan tahun anggaran. ​Pelajaran ketiga menyoroti peran komunikasi sebagai manajemen ekspektasi, mengingat pernyataan publik pejabat fiskal bukan sekadar urusan citra, melainkan instrumen untuk mengendalikan ekspektasi dan volatilitas pasar.

Pelajaran terakhir menegaskan pentingnya akuntabilitas hak prerogatif, di mana hak prerogatif Presiden hendaknya diimbangi dengan proses yang transparan serta menghormati martabat pejabat publik demi menjaga preseden tata kelola pemerintahan yang baik. (jim/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Baca Juga :  Diduga Sengaja Dibakar, Tujuh Rumah di Dok IX Ludes 

​Meski IHSG berangsur pulih, Entar mengingatkan adanya risiko jangka pendek yang perlu diwaspadai akibat arus keluar modal asing (net sell) yang sempat mencatatkan angka Rp3,36 triliun. ​Dampak lanjutannya adalah kurs rupiah yang tertekan sehingga Bank Indonesia harus menjaga suku bunga lebih tinggi. Ini menciptakan dilema suku bunga tinggi diperlukan untuk menstabilkan rupiah, namun di sisi lain dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

​Di akhir pemaparannya, Entar merangkum sejumlah poin utama yang patut dijadikan pelajaran berharga bagi pemerintah ke depan. ​Pelajaran penting pertama adalah krusialnya stabilitas kepemimpinan, sebab kepemimpinan yang stabil di Kementerian Keuangan sangat menentukan kredibilitas kebijakan fiskal di mata investor global.

Baca Juga :  Geledah Kantor Gubernur,  KPK Bawa Lima Koper

Pelajaran kedua menekankan matangnya perencanaan birokrasi, di mana rotasi jabatan struktural skala besar terutama Eselon II dan III harus memperhitungkan kesinambungan administrasi, khususnya jelang penutupan tahun anggaran. ​Pelajaran ketiga menyoroti peran komunikasi sebagai manajemen ekspektasi, mengingat pernyataan publik pejabat fiskal bukan sekadar urusan citra, melainkan instrumen untuk mengendalikan ekspektasi dan volatilitas pasar.

Pelajaran terakhir menegaskan pentingnya akuntabilitas hak prerogatif, di mana hak prerogatif Presiden hendaknya diimbangi dengan proses yang transparan serta menghormati martabat pejabat publik demi menjaga preseden tata kelola pemerintahan yang baik. (jim/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Baca Juga :  Jangan Ada Upaya Profokasi

Berita Terbaru

Artikel Lainnya