Konsep Dialog Kembali Didorong untuk Akhiri Konflik

JAYAPURA–Gereja-gereja di Tanah Papua terus mendorong upaya perdamaian untuk mengakhiri konflik kekerasan bersenjata yang berkepanjangan. Salah satu langkah yang dilakukan yakni membentuk wadah bersama bernama Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative (HONAI) atau West Papua Humanitarian Crisis Centre.

Ketua HONAI, Pdt. Andrikus Mofu, menegaskan gereja tidak ingin masyarakat terus menjadi korban kekerasan, kehilangan tempat tinggal hingga kehilangan nyawa akibat konflik yang berkepanjangan. “Kami tidak mau lagi umat kami terus mengalami penyiksaan, kematian,” tegas Pdt. Mofu dalam konferensi pers peluncuran HONAI Bersama di Graha Sara, Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, Jayapura, Selasa (15/9).

Mofu yang juga Ketua Sinode GKI di Tanah Papua mengatakan, kehadiran HONAI tidak boleh berhenti sebatas deklarasi maupun pernyataan normatif. Setelah diluncurkan, organisasi tersebut akan segera menggelar rapat bersama seluruh pengurus untuk menentukan program dan langkah prioritas dalam menangani persoalan kemanusiaan di Tanah Papua.

Baca Juga :  Pemprov Dijadwalkan akan Terima Opini WTP Kedelapan

Menurutnya, persoalan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat Papua saat ini sangat serius. Ia menyebut lebih dari 100 ribu pengungsi tersebar di berbagai wilayah dan membutuhkan perhatian serta penanganan kemanusiaan secara nyata di tanah Papua. Kondisi tersebut, kata Mofu, terlihat dari kunjungan anggota HONAI ke sejumlah lokasi pengungsian, termasuk di Nabire dan Yahukimo.

JAYAPURA–Gereja-gereja di Tanah Papua terus mendorong upaya perdamaian untuk mengakhiri konflik kekerasan bersenjata yang berkepanjangan. Salah satu langkah yang dilakukan yakni membentuk wadah bersama bernama Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative (HONAI) atau West Papua Humanitarian Crisis Centre.

Ketua HONAI, Pdt. Andrikus Mofu, menegaskan gereja tidak ingin masyarakat terus menjadi korban kekerasan, kehilangan tempat tinggal hingga kehilangan nyawa akibat konflik yang berkepanjangan. “Kami tidak mau lagi umat kami terus mengalami penyiksaan, kematian,” tegas Pdt. Mofu dalam konferensi pers peluncuran HONAI Bersama di Graha Sara, Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, Jayapura, Selasa (15/9).

Mofu yang juga Ketua Sinode GKI di Tanah Papua mengatakan, kehadiran HONAI tidak boleh berhenti sebatas deklarasi maupun pernyataan normatif. Setelah diluncurkan, organisasi tersebut akan segera menggelar rapat bersama seluruh pengurus untuk menentukan program dan langkah prioritas dalam menangani persoalan kemanusiaan di Tanah Papua.

Baca Juga :  Yunus Wonda : Pemekaran Ibarat Hilangkan Asap Tanpa Padamkan Bara

Menurutnya, persoalan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat Papua saat ini sangat serius. Ia menyebut lebih dari 100 ribu pengungsi tersebar di berbagai wilayah dan membutuhkan perhatian serta penanganan kemanusiaan secara nyata di tanah Papua. Kondisi tersebut, kata Mofu, terlihat dari kunjungan anggota HONAI ke sejumlah lokasi pengungsian, termasuk di Nabire dan Yahukimo.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya