Makannya Harus Disuap, Ikubator Disekat, Telur yang Tidak Menetas Disimpan untuk jadi Bukti

Mengintip Cara Karantina Papua Selatan Menetaskan Hingga Pelihara Anakan  Burung Paruh Bengkok 

Beberapa waktu lalu Balai Karantina Papua Selatan telah menerima puluhan telur burung paruh bengkok yang disita dari Bandara Mopah. Hanya sebagian kecil yang “selamat” hingga kini berumur 1 bulan, bagaimana pihak karantina merawat bayi-bayi burung tersebut?

Laporan: Yulius Sulo

Setiap empat jam sekali, alarm sunyi di benak Rizki berdering. Tidak peduli matahari baru merayap di ufuk timur pukul enam pagi, atau ketika kegelapan malam telah menyelimuti mess Balai Karantina Papua Selatan pada pukul sepuluh malam, langkah kaki Paramedik Karantina Hewan Pemula ini tetap berderap menuju ruangan khusus. Di dalam ruangan hangat bersuhu teratur itu, puluhan nyawa kecil yang baru menetas sedang menggantungkan hidup padanya.

Baca Juga :  PLTBg dan CBG Pertama di Tanah Papua Diresmikan

“Perlakuan mereka ini mirip sekali seperti bayi manusia,” ujar Rizki saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Kamis (15/10). Bagi Rizki, merawat anak burung yang baru menetas bukan sekadar tugas dinas, melainkan wujud dedikasi tanpa henti.

Cerita perjuangan ini bermula dari tindakan penahanan telur satwa liar dilindungi pada tanggal 20 dan 23 lalu. Setelah melewati proses penahanan hingga akhirnya berhasil masuk ke dalam mesin tetas karantina, telur-telur tersebut telah menghabiskan waktu lebih dari 40 hari hingga menetas.

Namun, perjalanan penyelamatan ini tak sepenuhnya mulus. Jeda waktu 3 hingga 4 hari antara proses penahanan awal hingga telur bisa masuk ke mesin tetas menjadi masa-masa yang krusial sekaligus rentan.

Baca Juga :  Berjibaku di Ketinggian 4.200 Mdpl dan Minim Oksigen, 8 Jenazah Dievakuasi

Mengintip Cara Karantina Papua Selatan Menetaskan Hingga Pelihara Anakan  Burung Paruh Bengkok 

Beberapa waktu lalu Balai Karantina Papua Selatan telah menerima puluhan telur burung paruh bengkok yang disita dari Bandara Mopah. Hanya sebagian kecil yang “selamat” hingga kini berumur 1 bulan, bagaimana pihak karantina merawat bayi-bayi burung tersebut?

Laporan: Yulius Sulo

Setiap empat jam sekali, alarm sunyi di benak Rizki berdering. Tidak peduli matahari baru merayap di ufuk timur pukul enam pagi, atau ketika kegelapan malam telah menyelimuti mess Balai Karantina Papua Selatan pada pukul sepuluh malam, langkah kaki Paramedik Karantina Hewan Pemula ini tetap berderap menuju ruangan khusus. Di dalam ruangan hangat bersuhu teratur itu, puluhan nyawa kecil yang baru menetas sedang menggantungkan hidup padanya.

Baca Juga :  Harga Cabai Tembus Rp110 Ribu per Kg, Pemerintah Siap Intervensi Pasar

“Perlakuan mereka ini mirip sekali seperti bayi manusia,” ujar Rizki saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Kamis (15/10). Bagi Rizki, merawat anak burung yang baru menetas bukan sekadar tugas dinas, melainkan wujud dedikasi tanpa henti.

Cerita perjuangan ini bermula dari tindakan penahanan telur satwa liar dilindungi pada tanggal 20 dan 23 lalu. Setelah melewati proses penahanan hingga akhirnya berhasil masuk ke dalam mesin tetas karantina, telur-telur tersebut telah menghabiskan waktu lebih dari 40 hari hingga menetas.

Namun, perjalanan penyelamatan ini tak sepenuhnya mulus. Jeda waktu 3 hingga 4 hari antara proses penahanan awal hingga telur bisa masuk ke mesin tetas menjadi masa-masa yang krusial sekaligus rentan.

Baca Juga :  Pastikan Mesin Politik Berjalan, DPW PKS PPS  Gelar Konsolisasi 

Berita Terbaru

Artikel Lainnya