Makannya Harus Disuap, Ikubator Disekat, Telur yang Tidak Menetas Disimpan untuk jadi Bukti

“Karena terlalu lama berada di luar mesin tetas sebelum berhasil diselamatkan, banyak telur yang gagal berkembang,” ungkap Rizki dengan nada prihatin.

Dari total puluhan telur yang disita, sebanyak 35 butir berhasil menetas. Namun, ketahanan fisik embrio yang sempat terganggu membuat 15 ekor di antaranya tak mampu bertahan hidup dan mati tak lama setelah menetas.

Kini, dari perjuangan panjang dan perawatan intensif, sebanyak 20 ekor bayi burung berhasil bertahan hidup. Kelompok kecil ini terdiri dari 18 ekor Kakaktua Jambul Kuning (Cacatua galerita) dan 2 ekor Nuri Bayan (Eclectus roratus)—dua spesies langka khas Papua yang sangat dilindungi.

Berbeda dengan anak ayam atau bebek yang bisa langsung mencari makan sendiri begitu menetas, bayi burung paruh bengkok membutuhkan suapan hangat dari induknya—atau dalam hal ini, jemari telaten Rizki.

Baca Juga :  Buka Wawasan Isu Internasional, Berharap Generasi Muda Papua Jadi Diplomat

Dengan cermat, Rizki menyuapkan pakan khusus bernama Nutribird A21, formula nutrisi impor yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi anak burung paruh bengkok. Proses pemberian pakan ini dilakukan secara rutin sebanyak lima kali sehari: mulai pukul 06.00 pagi, 10.00 pagi, 14.00 siang, 18.00 sore, hingga suapan terakhir pada pukul 22.00 malam.

“Bayi-bayi burung ini tidak menetas bersamaan. Ada yang umurnya sudah satu setengah bulan dan mulai tumbuh bulu-bulu cantik, ada juga yang baru berusia 15 hari dan masih polos tanpa bulu,” jelas Rizki sembari menunjuk ke arah inkubator.

Untuk menghindari konflik antar satwa, inkubator disekat sedemikian rupa. “Kalau tidak disekat, mereka bisa saling gigit,” tambahnya.

Baca Juga :  38 Ekor Sapi Kuban dari Tual Diperiksa Petugas Karantina

Sisa-sisa telur yang tidak berhasil menetas kini disimpan rapi di dalam freezer. Telur-telur tersebut menjadi bukti otentik yang siap dipertanggungjawabkan saat berita acara serah terima, pemusnahan, atau koordinasi lebih lanjut bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA).

“Karena terlalu lama berada di luar mesin tetas sebelum berhasil diselamatkan, banyak telur yang gagal berkembang,” ungkap Rizki dengan nada prihatin.

Dari total puluhan telur yang disita, sebanyak 35 butir berhasil menetas. Namun, ketahanan fisik embrio yang sempat terganggu membuat 15 ekor di antaranya tak mampu bertahan hidup dan mati tak lama setelah menetas.

Kini, dari perjuangan panjang dan perawatan intensif, sebanyak 20 ekor bayi burung berhasil bertahan hidup. Kelompok kecil ini terdiri dari 18 ekor Kakaktua Jambul Kuning (Cacatua galerita) dan 2 ekor Nuri Bayan (Eclectus roratus)—dua spesies langka khas Papua yang sangat dilindungi.

Berbeda dengan anak ayam atau bebek yang bisa langsung mencari makan sendiri begitu menetas, bayi burung paruh bengkok membutuhkan suapan hangat dari induknya—atau dalam hal ini, jemari telaten Rizki.

Baca Juga :  Ketersediaan Vaksin Polio untuk Target 119.922 Anak Mencukupi

Dengan cermat, Rizki menyuapkan pakan khusus bernama Nutribird A21, formula nutrisi impor yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi anak burung paruh bengkok. Proses pemberian pakan ini dilakukan secara rutin sebanyak lima kali sehari: mulai pukul 06.00 pagi, 10.00 pagi, 14.00 siang, 18.00 sore, hingga suapan terakhir pada pukul 22.00 malam.

“Bayi-bayi burung ini tidak menetas bersamaan. Ada yang umurnya sudah satu setengah bulan dan mulai tumbuh bulu-bulu cantik, ada juga yang baru berusia 15 hari dan masih polos tanpa bulu,” jelas Rizki sembari menunjuk ke arah inkubator.

Untuk menghindari konflik antar satwa, inkubator disekat sedemikian rupa. “Kalau tidak disekat, mereka bisa saling gigit,” tambahnya.

Baca Juga :  Lebih dari 700 turis dari Berbagai Negara Tiap Datang ke Isyo Hill

Sisa-sisa telur yang tidak berhasil menetas kini disimpan rapi di dalam freezer. Telur-telur tersebut menjadi bukti otentik yang siap dipertanggungjawabkan saat berita acara serah terima, pemusnahan, atau koordinasi lebih lanjut bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA).

Berita Terbaru

Artikel Lainnya