”Selain itu juga, saya bertemu dengan Deputi Logistik, guna menyampaikan bantuan-bantuan yang akan diserahkan di Kota Jayapura, dan Kabupaten Jayapura," terangnya kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (8/1) kemarin.
Dua hari pasca hujan deras yang mengakibatkan banjir hampir diseluruh Kota Jayapura ternyata wilayah Perumahan Organda hingga Ahad (9/1) kemarin masih belum surut. Ribuan warga masih bertahan dengan air sepinggang meski sebelumnya berada pada titik dada organg dewasa. Lambatnya air surut dikarenanya hanya memiliki dua jalur pembuangan yakni sebuah goa kecil di bawah Bukit Konya dan drainase yang berada disamping gedung PGSD tak jauh dari kampus USTJ.
"Hasil analisis menunjukkan hujan ekstrim ini disebabkan oleh beberapa gangguan kondisi atmosfer. Yakni saat ini wilayah Jayapura dan sekitarnya berada pada periode musim penghujan diiringi dengan aktifnya fenomena iklim global La Nina yang diperkirakan berlangsung hingga April 2022,” jelasnya, Jumat (7/1).
Ia juga menyoroti adanya aktivitas pungutan liar yang dilakukan oknum warga untuk memanfaatkan situasi. Namun di sini tak berlangsung lama sebab ia langsung memerintahkan untuk ditindak. “Sudah kami tindak dan tidak ada lagi pungli,” kata Rustan Saru melalui pesan Whatsappnya kepada Cenderawasih Pos, kemarin.
PLN bergerak cepat untuk menormalkan suplai listrik ke pelanggan pasca cuaca ekstrem yang terjadi Kamis (6/1) hingga Jumat (7/1) pagi di Kota dan Kabupaten Jayapura dan sekitarnya. Sebanyak 225 petugas dikerahkan dan hingga pukul 12.00 WIT, 107 gardu dari total 220 gardu terdampak telah berhasil dipulihkan.
Bantalan beton yang dilapisi aspal sepanjang 20 meter ini terlihat menggantung dan membahayakan jika diberi beban berat. Bisa – bisa kendaraan yang melintas ikut masuk ke dalam jurang. Amblasnya jalan ini kemudian disikapi oleh aparat kepolisian, TNI dan dinas perhubungan dengan menutup jalur dua arah baik dari arah Perumnas III maupun sebaliknya.
"Dulu kali atau sungai lebarnya 9 meter sekarang tinggal 1 meter karena penyempitan dibangun rumah-rumah penduduk. Jadi kalau ada kayu yang patah dan tumbang menjadi sampah dan mampet, air dan lumpur akan meluap ke rumah warga. Kalau kali ini lebar, saya kira tidak ada masalah. Itu yang saya amati,” jelasnya.
Banjir memiliki ceritanya sendiri sendiri. Warga tidak hanya mengevakuasi dirinya agar selamat melainkan juga turut mengevakuasi binatang seperti ayam maupun kucing. Ada juga warga yang nyaris tenggelam di Pasar Youtefa namun berhasil dievakuasi oleh tim gabungan.
Beberapa pedagang di Pasar Youtefa yang ditemui mengaku banjir kali ini paling besar dibanding yang sudah – sudah. Itu bisa dilihat dari genangan air yang tidak hanya berada di pusat pasar tetapi sampai ke jalan menuju pasar. Bahkan ketinggian air di tengah pasar menurut beberapa pedagang ada yang mencapai 3 meter. Alhasil tak sedikit yang malam itu harus nginap di atap atau loteng.
Dari catatan Cenderawasih Pos musibah serupa pernah terjadi pada Februari 2015, lalu 3 Agustus 2017, kemudian 16 Maret 2019 dan 7 Januari 2022 kemarin. Namun dari semuanya, warga mengaku bahwa banjir Jumat (7/1) kemarin menjadi yang terdahsyat selama ini.
Kepala BPBD Provinsi Papua, Willem Manderi menjelaskan, terkait dengan himbawan waspada telah dilakukan pihaknya sejak bulan November, mengingat pemberitahuan dari BMKG bahwa mulai dari bulan November, Desember, Januari hingga Februari akan terjadi perubahan iklim di Papua, yang mengharuskan semua pihak waspada bencana Banjir dan Longsor.
Plt. Disorda Provinsi Papua, Alex Kapisa menjelaskan dalam kondisi tersebut, untuk area Stadiun Lukas Enembe, memang terendam banjir namun hanya diarea stadium saja, tidak menggangu fasilitas didalamnya.
Hujan deras yang mengakibatkan banjir disejumlah lokasi di Jayapura menimbulkan banyak korban. Tak sedikit rumah yang terendam dan warga memilih mengungsi.
Sejumlah titik di Kota Jayapura masih terendam banjir, sejak Kamis (6/1) malam hingga Jumat (7/1) pagi. Daerah yang masih tergenang di antaranya di beberapa titik di sekitar Distrik Abepura seperti Pasar Youtefa, kompleks Kali Acai, dan depan SMKN 5 Jayapura banjir. Hingga pagi ini, banjir masih setinggi dada orang dewasa.
 Pagi kemarin, puluhan warga sibuk membersihkan jalan dan mengangkut material tanah yang telah longsor akibat dari hujan lebat semalam. Tidak ada anak-anak yang pergi ke sekolah dikarenakan rumah dan sekolah mereka kebanjiran. Lumpur kuning menyelimuti lantai ruang kelas mereka.
 Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano bersama Wakil Wali Kota, Ir Rustan Saru dan sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, langsung meninjau lokasi terjadinya banjir dan tanah longsor di di Dok IX Kelurahan Tanjung Ria, Jayapura Utara pada Kamis, (6/1).
Warga di Kampung Wambi Mahai, Distrik Okaba, Kabupaten Merauke, salah satu wilayah yang mengalami dampak dari banjir rob yang terjadi Rabu (29/12). Babinsa Koramil 1707-06/Okaba, Kodim 1707/Merauke yang dipimpin Sertu Dwi Indarwanto melakukan pemantauan sekaligus membantu masyarakat Kampung Wambi Mahai dalam merapikan kembali bangunan rumah yang rusak akibat banjir Rob tersebut. Â
Kapolres Merauke AKBP Ir. Untung Sangaji, M.Hum didampingi Kasat Polairud Iptu Okto Samosir, SH beserta anggotanya, personel Basarnas dan TNI meninjau langsung pantai Lampu Satu terkait dengan banjir rob dan gelombang tinggi yang terjadi sejak Rabu (29/12). Peninjauan dilakukan Kamis (30/12), kemarin.
Dampak dari air pasang rob yang terjadi pada Rabu (29/12) tidak hanya dialami warga yang ada di pesisir Kota Merauke, namun juga dialami warga yang tinggal di pesisir pantai Kampung Wambi, Distrik Okaba, Kabupaten Merauke.Â
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Merauke mnegeluarkan peringatan dini terkait dengan gelombang tinggi dan banjir rob yang melanda Kabupaten Merauke.
Masyarakat yang tinggal di sekitar jalan Pasar Lama Sentani selalu was-was saat hujan turun. Mereka sangat terganggu dengan kondisi ruas jalan yang seringkali tergenang air pada saat hujan tiba.
Bantuan kemanusian untuk masyarakat yang kena musibah banjir rob yang menimpa warga 11 kampung di Distrik Waan rencananya akan dikirim dengan menggunakan kapal carteran hari ini, Kamis (22/12).
Akibat banjir rob ini, membuat masyarakat yang berjumlah sekitar lebih dari 6.000 jiwa tersebut terancam krisis pangan dan kelaparan. Pasalnya, tanaman pangan mereka berupa umbi-umbian yang menjadi sumber makanan pokok siap panen rusak akibat terendam air laut.
Masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir pantai khususnya yang berada di pantai utara Papua mulai dari perairan Biak, Sarmi dan Jayapura, diminta untuk mewaspadai gelombang laut yang diperkirakan mencapai 2,5 hingga 6 meter.