“Hari ini kami dari Solidaritas Mahasiswa Papua (SOMAP), kami turun aksi untuk mendorong agenda soal berdirinya PMI. Padahal Palang Merah Indonesia ini kan bertujuannya untuk bagaimana cara untuk membantu manusia yang sedang mengalami kesusahan,” ujar Julianus Furihay saat memberikan keterangannya di sela-sela aksi.
Julianus memaparkan, dampak bentrokan bersenjata telah memaksa warga meninggalkan kampung halaman mereka tanpa adanya jaminan akses kesehatan dan pangan dasar. Kondisi para pengungsi di wilayah pedalaman seperti Yahukimo, Puncak Jaya, Puncak Papua, Dogiyai, hingga Meepago hingga kini dinilai sangat memprihatinkan.
Ia menyoroti nasib kelompok rentan yang harus bertahan hidup di tengah hutan tanpa bantuan medis dari pemerintah maupun PMI. Situasi darurat ini dinilainya terus berulang tanpa adanya langkah konkret dari pihak-pihak yang memegang mandat kemanusiaan.
“Mama-mama yang masih dalam hamil mereka melahirkan di hutan, anaknya di hutan. Orang tua yang tidak bisa jalan, lumpuh, mereka akan mati di hutan. Sehingga hari ini pemerintah harus buka haluan dengan Palang Merah Indonesia agar bisa melihat masyarakat-masyarakat yang sedang tertindas atau sedang susah,” tegas Julianus.
Selain masalah pengungsian akibat konflik, Julianus juga menyinggung kejanggalan atas lambatnya respons terhadap berbagai bencana non-alam yang melanda permukiman warga di kawasan pegunungan dan pesisir Papua sepanjang tahun ini.
“Kejanggalan daripada fenomena itu salah satunya dalam tahun ini ada banyak terjadi kebakaran di wilayah Papua itu sendiri, seperti di Yahukimo, di Paniai, seperti di Dogiyai, Nabire. Tetapi hari ini mereka tidak turun tangan,” tambah Julianus.
“Hari ini kami dari Solidaritas Mahasiswa Papua (SOMAP), kami turun aksi untuk mendorong agenda soal berdirinya PMI. Padahal Palang Merah Indonesia ini kan bertujuannya untuk bagaimana cara untuk membantu manusia yang sedang mengalami kesusahan,” ujar Julianus Furihay saat memberikan keterangannya di sela-sela aksi.
Julianus memaparkan, dampak bentrokan bersenjata telah memaksa warga meninggalkan kampung halaman mereka tanpa adanya jaminan akses kesehatan dan pangan dasar. Kondisi para pengungsi di wilayah pedalaman seperti Yahukimo, Puncak Jaya, Puncak Papua, Dogiyai, hingga Meepago hingga kini dinilai sangat memprihatinkan.
Ia menyoroti nasib kelompok rentan yang harus bertahan hidup di tengah hutan tanpa bantuan medis dari pemerintah maupun PMI. Situasi darurat ini dinilainya terus berulang tanpa adanya langkah konkret dari pihak-pihak yang memegang mandat kemanusiaan.
“Mama-mama yang masih dalam hamil mereka melahirkan di hutan, anaknya di hutan. Orang tua yang tidak bisa jalan, lumpuh, mereka akan mati di hutan. Sehingga hari ini pemerintah harus buka haluan dengan Palang Merah Indonesia agar bisa melihat masyarakat-masyarakat yang sedang tertindas atau sedang susah,” tegas Julianus.
Selain masalah pengungsian akibat konflik, Julianus juga menyinggung kejanggalan atas lambatnya respons terhadap berbagai bencana non-alam yang melanda permukiman warga di kawasan pegunungan dan pesisir Papua sepanjang tahun ini.
“Kejanggalan daripada fenomena itu salah satunya dalam tahun ini ada banyak terjadi kebakaran di wilayah Papua itu sendiri, seperti di Yahukimo, di Paniai, seperti di Dogiyai, Nabire. Tetapi hari ini mereka tidak turun tangan,” tambah Julianus.