JAYAPURA – Pemerintah Kota Jayapura terus memperkuat pelayanan bagi warga terdampak kebakaran yang kini masih berada di sejumlah lokasi pengungsian. Selain memastikan kebutuhan kesehatan terpenuhi, pemerintah juga bergerak cepat memulihkan dokumen kependudukan warga yang hilang atau terbakar.
 Dua layanan tersebut berjalan bersamaan di lokasi pengungsian dan kawasan terdampak kebakaran pada Kamis (3/9). Dari sisi kesehatan, hingga hari kedua pelayanan, sebanyak 55 warga telah mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan melalui pos kesehatan yang disiapkan Pemerintah Kota Jayapura.
 Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu, mengatakan pasien yang mendapatkan pelayanan berasal dari berbagai kelompok usia. “Sebanyak 3 orang merupakan anak hingga usia 5 tahun, 1 orang berusia 6–12 tahun, 49 orang berada pada usia produktif 18–49 tahun, serta 2 orang berusia 60 tahun ke atas,” ujar Juliana di lokasi pengungsian.
 Selain itu, terdapat tiga ibu hamil yang turut mendapatkan pelayanan kesehatan. Ketiganya memiliki usia kehamilan masing-masing 36 minggu, 20 minggu dan 15 minggu. Dari pemeriksaan yang dilakukan, hipertensi menjadi keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan pada hari kedua pelayanan. Keluhan lainnya yakni nyeri otot atau myalgia, migrain dan sakit kepala, flu, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta penyakit kulit.
 “Kami tetap ada di tengah-tengah masyarakat dan kami melayani dengan kondisi sekarang. Tim ditambah lagi dengan organisasi dokter yang hadir bersama-sama dengan kami,” katanya.
 Tidak hanya memantau kondisi kesehatan, petugas juga melakukan pendataan kebutuhan khusus anak-anak yang berada di tenda pengungsian. Hasil pendataan pada 15 tenda menunjukkan terdapat 87 bayi dan balita hingga usia lima tahun yang membutuhkan susu. Jenis susu yang dibutuhkan pun berbeda-beda sesuai kebutuhan anak, di antaranya SGM, Benco, Lactogen dan Frisian Flag.
JAYAPURA – Pemerintah Kota Jayapura terus memperkuat pelayanan bagi warga terdampak kebakaran yang kini masih berada di sejumlah lokasi pengungsian. Selain memastikan kebutuhan kesehatan terpenuhi, pemerintah juga bergerak cepat memulihkan dokumen kependudukan warga yang hilang atau terbakar.
 Dua layanan tersebut berjalan bersamaan di lokasi pengungsian dan kawasan terdampak kebakaran pada Kamis (3/9). Dari sisi kesehatan, hingga hari kedua pelayanan, sebanyak 55 warga telah mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan melalui pos kesehatan yang disiapkan Pemerintah Kota Jayapura.
 Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu, mengatakan pasien yang mendapatkan pelayanan berasal dari berbagai kelompok usia. “Sebanyak 3 orang merupakan anak hingga usia 5 tahun, 1 orang berusia 6–12 tahun, 49 orang berada pada usia produktif 18–49 tahun, serta 2 orang berusia 60 tahun ke atas,” ujar Juliana di lokasi pengungsian.
 Selain itu, terdapat tiga ibu hamil yang turut mendapatkan pelayanan kesehatan. Ketiganya memiliki usia kehamilan masing-masing 36 minggu, 20 minggu dan 15 minggu. Dari pemeriksaan yang dilakukan, hipertensi menjadi keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan pada hari kedua pelayanan. Keluhan lainnya yakni nyeri otot atau myalgia, migrain dan sakit kepala, flu, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta penyakit kulit.
 “Kami tetap ada di tengah-tengah masyarakat dan kami melayani dengan kondisi sekarang. Tim ditambah lagi dengan organisasi dokter yang hadir bersama-sama dengan kami,” katanya.
 Tidak hanya memantau kondisi kesehatan, petugas juga melakukan pendataan kebutuhan khusus anak-anak yang berada di tenda pengungsian. Hasil pendataan pada 15 tenda menunjukkan terdapat 87 bayi dan balita hingga usia lima tahun yang membutuhkan susu. Jenis susu yang dibutuhkan pun berbeda-beda sesuai kebutuhan anak, di antaranya SGM, Benco, Lactogen dan Frisian Flag.