MIMIKA- Suara dentuman meriam simulasi dan letupan gas air mata memecah keheningan Mimika, Papua Tengah. Di bawah terik yang memanggang aspal, ratusan personel gabungan merapatkan barisan, memeragakan tarian taktis penanganan massa dalam Simulasi Sistem Pengamanan Kota (Sispamkota).
Latihan terpadu ini bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan ritual pembuktian kesiapsiagaan aparat dalam merawat denyut keamanan di wilayah pesisir Papua tersebut.
Latihan ini menjadi salah satu simpul utama dalam rangkaian Evaluasi Gelar Operasional Triwulan I Polda Papua Tengah.
Kapolres Mimika, AKBP Alredo Agustinus Rumbiak, menegaskan bahwa ketangkasan aparat tidak boleh digantungkan pada ada atau tidaknya ancaman yang tampak di permukaan.
“Ini sebenarnya juga dalam rangka rangkaian kegiatan Evaluasi Gelar Operasional Triwulan I Polda Papua Tengah. Kebetulan dilaksanakannya di sini, sehingga kita juga menunjukkan kesiapsiagaan kita dalam rangka pengamanan sistem pengamanan kota,” ujar Alredo di lokasi kegiatan.
Ketika ditanya mengenai potensi konflik lokal di Mimika, Alredo menekankan bahwa kesiapsiagaan adalah nafas rutin kepolisian, bukan sekadar respons spontan saat api kerusuhan.
“Latihan yang dilakukan itu bukan cuma dalam rangka kalau ada mau demo atau tidak, tapi ini untuk menunjukkan kita ini selalu siap. Situasi damai, situasi tidak baik pun, kita harus selalu siap. Sehingga latihan ini tetap harus dilakukan dengan berjangka. Jadi bukan karena mau ngadapin ada situasi masalah dulu, kita baru latihan untuk mensimulasikan kalau masalah itu terjadi, tidak. Tapi ini memang latihan yang memang dilakukan untuk menunjukkan kesiapsiagaan kita dalam setiap saat,” kata Alredo.
Sistem Pengamanan Kota dirancang sebagai payung prosedur standar Polri untuk menjamin stabilitas, melindungi keselamatan jiwa dan harta benda, serta memastikan kebebasan menyampaikan pendapat tetap mengalir di koridor hukum dan pemenuhan hak asasi manusia.