MIMIKA — Anomali cuaca tengah melingkupi Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Di saat fenomena El Nino mencengkeram sebagian besar wilayah dengan kekeringan, hujan deras justru masih kerap mengguyur kawasan pesisir hingga pusat Kota Timika dalam beberapa hari terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Mimika mengonfirmasi bahwa fenomena hujan di tengah kemarau ini dipicu oleh gangguan dinamika atmosfer, yakni keberadaan sistem siklon tropis di kawasan Samudera Pasifik.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin, Dwi Christanto, memaparkan bahwa dalam siklus normal El Nino, pergerakan massa udara dari Australia menuju Pasifik umumnya membatasi pembentukan awan hujan di atas langit Mimika. Namun, kemunculan sistem siklon di sebelah timur Filipina mengubah alur pergerakan angin secara regional.
Saat ini, suhu permukaan laut di sekitar wilayah Mimika cenderung lebih dingin, yang menekan pertumbuhan awan lokal. Sebaliknya, perairan di utara Australia berada dalam kondisi lebih hangat sehingga menjadi pusat pembentukan awan hujan yang aktif.
Sistem tekanan rendah dari siklon tropis tersebut lantas menyedot gugusan awan dari Australia yang melintas di atas Papua Selatan menuju wilayah Mimika. “Awan hujannya dari arah Papua Selatan bergerak ke Mimika. Ketarik karena adanya tropical cyclone yang dicurigai,” ujar Dwi, Kamis (24/9).
MIMIKA — Anomali cuaca tengah melingkupi Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Di saat fenomena El Nino mencengkeram sebagian besar wilayah dengan kekeringan, hujan deras justru masih kerap mengguyur kawasan pesisir hingga pusat Kota Timika dalam beberapa hari terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Mimika mengonfirmasi bahwa fenomena hujan di tengah kemarau ini dipicu oleh gangguan dinamika atmosfer, yakni keberadaan sistem siklon tropis di kawasan Samudera Pasifik.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin, Dwi Christanto, memaparkan bahwa dalam siklus normal El Nino, pergerakan massa udara dari Australia menuju Pasifik umumnya membatasi pembentukan awan hujan di atas langit Mimika. Namun, kemunculan sistem siklon di sebelah timur Filipina mengubah alur pergerakan angin secara regional.
Saat ini, suhu permukaan laut di sekitar wilayah Mimika cenderung lebih dingin, yang menekan pertumbuhan awan lokal. Sebaliknya, perairan di utara Australia berada dalam kondisi lebih hangat sehingga menjadi pusat pembentukan awan hujan yang aktif.
Sistem tekanan rendah dari siklon tropis tersebut lantas menyedot gugusan awan dari Australia yang melintas di atas Papua Selatan menuju wilayah Mimika. “Awan hujannya dari arah Papua Selatan bergerak ke Mimika. Ketarik karena adanya tropical cyclone yang dicurigai,” ujar Dwi, Kamis (24/9).