MERAUKE – Masyarakat Kampung Amunkay, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, rela mengantre di bawah terik matahari untuk mendapatkan minyak tanah (Mitan) di salah satu pangkalan yang berada di kampung tersebut.
Pantauan media ini, antrean panjang didominasi kaum ibu. Di bawah terik matahari, mereka datang dengan membawa jeriken berbagai ukuran, mulai dari 5 liter, 10 liter hingga 20 liter.
Untuk jerigen ukuran 5 liter, sebagian warga bahkan membawa hingga lima jeriken. Sementara warga yang menggunakan jeriken ukuran 20 liter umumnya hanya membawa satu jeriken.
Antrean tersebut dilakukan warga untuk mendapatkan minyak tanah yang menjadi salah satu kebutuhan penting rumah tangga, terutama untuk keperluan memasak.
Salah seorang warga, Siti Kohijah, mengatakan minyak tanah masih menjadi pilihan utama masyarakat karena semakin sulit mendapatkan kayu bakar di sekitar kampung. “Sekarang pakainya minyak tanah, karena untuk kayu bakar sulit kita dapat,” katanya.
MERAUKE – Masyarakat Kampung Amunkay, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, rela mengantre di bawah terik matahari untuk mendapatkan minyak tanah (Mitan) di salah satu pangkalan yang berada di kampung tersebut.
Pantauan media ini, antrean panjang didominasi kaum ibu. Di bawah terik matahari, mereka datang dengan membawa jeriken berbagai ukuran, mulai dari 5 liter, 10 liter hingga 20 liter.
Untuk jerigen ukuran 5 liter, sebagian warga bahkan membawa hingga lima jeriken. Sementara warga yang menggunakan jeriken ukuran 20 liter umumnya hanya membawa satu jeriken.
Antrean tersebut dilakukan warga untuk mendapatkan minyak tanah yang menjadi salah satu kebutuhan penting rumah tangga, terutama untuk keperluan memasak.
Salah seorang warga, Siti Kohijah, mengatakan minyak tanah masih menjadi pilihan utama masyarakat karena semakin sulit mendapatkan kayu bakar di sekitar kampung. “Sekarang pakainya minyak tanah, karena untuk kayu bakar sulit kita dapat,” katanya.