WAMENA – Badan pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jayawijaya memastikan jika naiknya harga sejumlah barang yang mulai merangkak naik memicu kenaikan inflasi daerah.
Kepala BPS Jayawijaya Arther Ludwik Pamissa menyatakan kenaikan harga barang dilatarbelakangi dengan adanya kenaikan harga avtur secara global tentunya membawa efek yang cukup besar di Papua Pegunungan.
“Ini efek domino yang sangat besar khususnya untuk kita di Papua Pegunungan khususnya Wamena sebagai kota indeks harga konsumen, kalau ditinjau dari Inflasi bulan maret yang dirilis awal bulan april itu 3,14 persen year on year,”ungkapnya Selasa (21/4).
Inflasi Bulan maret yang mencapai 3,14 persen Year on Year ini terjadi karena baru saja selesai perayaan Idul Fitri, kemudian dipicu dengan kenaikan harga BBM Avtur, kondisi akhir -ahir ini memang terpantau ada kenaikan harga barang, sehingga apabila ada kenaikan inflasi maka itu dikarenakan adanya kenaikan harga barang di pasaran Wamena.
“Kondisi ini apabila tidak dikendalikan maka dampaknya akan meluas, kalau ada kenaikan harga barang maka akan memicu daya beli masyarakat akan menjadi turun, kalau ini dikendalikan dengan belanja pemerintah khususnya anggaran itu dibelanjakan kemudian dan bisa sampai ke masyarakat seperti bantuan sosial, bantuan UMKM akan membantu menekan inflasi,” jelas Arther.
Menurutnya, kalau dari sisi kondisi saat ini, dilihat dan diamati memang kenaikan harga cargo ini memang sudah diumumkan dari pihak aviasi, sedangkan di Wamena ini tak semua komuditas pertanian itu tersedia, oleh sebab itu dalam beberapa pertemuan baik ditingkat Provinsi maupun Kabupaten bersama TPID sudah disampaikan agar sektor pertanian ini perbanyak menanam komuditas yang sangat mempengaruhi inflasi.
“Contoh seperti cabai rawit, tomat, Hortikultura, ini yang kadang -kadang memicu kenaikan inflasi, jadi kalau hal ini tak dikendalikan dan daya beli masyarakat menurun akan berakibat kepada kondisi masyarakat sendiri,” jelas Kepala BPS.