Pergaulan Bebas dan Faktor Ekonomi Jadi Penyebab 1000 Lebih Anak Berhenti Sekolah

  Ia mengaku keprihatinannya bermula dari berbagai laporan yang diterimanya beberapa bulan terakhir.

   Menurut data lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan kalangan akademisi, diperkirakan sekitar 700 ribu anak Papua tidak lagi mengenyam pendidikan. Sementara di Kota Jayapura saja, berdasarkan informasi Dinas Pendidikan, terdapat sekitar 1.000 anak yang putus sekolah.

  Di hadapannya, angka-angka tersebut kini memiliki wajah, nama, dan kisah hidup.

Jordan Wenda menjadi salah satu anak yang memberanikan diri bercerita. Remaja 17 tahun itu mengaku telah putus sekolah sejak kelas lima SD di Kampung Tiba-Tiba, Distrik Abepura.

   Ia mengakui dirinya lebih memilih bermain bersama teman-temannya, sering membolos hingga akhirnya meninggalkan sekolah. Selama bertahun-tahun Jordan hanya menghabiskan waktu di rumah.

Baca Juga :  Truk Sampah Tidak Perlu Lagi Antre BBM di SPBU

   Kini, ketika melihat teman-teman sebayanya telah melanjutkan pendidikan, penyesalan datang menghampirinya. Ia ingin kembali bersekolah. “Saya ingin sekolah lagi,” ujarnya tegas di hadapan Ketua MRP.

   Kisah serupa juga dialami Vergi Ambumi. Ia tinggal bersama kedua orang tua dan tujuh saudaranya di kawasan Polimak, Jayapura. Vergi pernah bersekolah di SMP Negeri 3 Jayapura. Namun pada 2024 ia tidak naik kelas.

   Selain sering membolos karena mengikuti teman-temannya bermain, kondisi ekonomi keluarga membuatnya semakin sulit melanjutkan pendidikan. Sejak berhenti sekolah, waktunya lebih banyak dihabiskan berlatih tinju bersama komunitas boxing di Jayapura dan bermain bersama teman-temannya. Namun kini, ia menyimpan satu keinginan sederhana.

Baca Juga :  Butuh Konvergensi Program, Makin Banyak yang Terlibat Makin Cepat Diatasi

“Saya ingin sekolah lagi,” tegas Vergi.

  Ia mengaku keprihatinannya bermula dari berbagai laporan yang diterimanya beberapa bulan terakhir.

   Menurut data lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan kalangan akademisi, diperkirakan sekitar 700 ribu anak Papua tidak lagi mengenyam pendidikan. Sementara di Kota Jayapura saja, berdasarkan informasi Dinas Pendidikan, terdapat sekitar 1.000 anak yang putus sekolah.

  Di hadapannya, angka-angka tersebut kini memiliki wajah, nama, dan kisah hidup.

Jordan Wenda menjadi salah satu anak yang memberanikan diri bercerita. Remaja 17 tahun itu mengaku telah putus sekolah sejak kelas lima SD di Kampung Tiba-Tiba, Distrik Abepura.

   Ia mengakui dirinya lebih memilih bermain bersama teman-temannya, sering membolos hingga akhirnya meninggalkan sekolah. Selama bertahun-tahun Jordan hanya menghabiskan waktu di rumah.

Baca Juga :  Dana Puluhan Miliar Mulai Digelontorkan ke 14 Kampung Adat

   Kini, ketika melihat teman-teman sebayanya telah melanjutkan pendidikan, penyesalan datang menghampirinya. Ia ingin kembali bersekolah. “Saya ingin sekolah lagi,” ujarnya tegas di hadapan Ketua MRP.

   Kisah serupa juga dialami Vergi Ambumi. Ia tinggal bersama kedua orang tua dan tujuh saudaranya di kawasan Polimak, Jayapura. Vergi pernah bersekolah di SMP Negeri 3 Jayapura. Namun pada 2024 ia tidak naik kelas.

   Selain sering membolos karena mengikuti teman-temannya bermain, kondisi ekonomi keluarga membuatnya semakin sulit melanjutkan pendidikan. Sejak berhenti sekolah, waktunya lebih banyak dihabiskan berlatih tinju bersama komunitas boxing di Jayapura dan bermain bersama teman-temannya. Namun kini, ia menyimpan satu keinginan sederhana.

Baca Juga :  Delapan Bus Siap Melayani, Kenaikan Tarif Rp 10 Ribu Hingga Rp 25 Ribu

“Saya ingin sekolah lagi,” tegas Vergi.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya