Populasi Satwa Endemik Papua Semakin Berkurang

Kangguru Papua, dan Landak Papua Kian Susah Ditemui

MERAUKE – Populasi sejumlah satwa liar di Papua Selatan, termasuk kangguru Papua (Macropus agilis), disebut mengalami penurunan. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada jumlah satwa di alam, tetapi juga memicu perubahan perilaku akibat tekanan terhadap habitat dan aktivitas manusia.

Perubahan perilaku itu membuat satwa yang sebelumnya relatif mudah ditemukan kini cenderung lebih sulit dijumpai karena memilih menjauh dan mencari lokasi yang dianggap lebih aman.

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Merauke Y. Agung Widya mengatakan, belum ada  Satwa endemik yang di Paoua Selatan yang punya, namun jumlahnya yang mengalami penurunan.

Baca Juga :  Pemprov Papsel Tetapkan 56 Paskibra Provinsi dan Nasional

“Kalau dikatakan satwa endemik, sebenarnya kita di sini belum ada yang sampai punah. Ini lebih kepada populasinya yang semakin berkurang. Kemudian perilaku satwa juga berubah karena tekanan dan sebagainya,” kata Y. Agung Widya, ditemui di Kantornya, Jumat (18/9).

Ia mencontohkan kangguru Papua (Macropus agilis). Dari sisi populasi, jumlah satwa tersebut diperkirakan mengalami penurunan. Tekanan berupa perburuan dan perubahan habitat membuat perilakunya ikut berubah.

Kangguru yang sebelumnya banyak beraktivitas di kawasan savana kini cenderung memilih kawasan peralihan atau ekoton, yakni wilayah pertemuan antara dua tipe ekosistem. Ketika mendeteksi keberadaan manusia, satwa tersebut akan segera berpindah menuju lokasi yang dianggap lebih aman.

Baca Juga :  Gelar Tikar Adat, Perjuangkan Bupati dan Wakil Bupati OAP

“Kalau ada orang, dia cepat pindah ke lokasi yang aman. Dampaknya, satwa semakin mengalami perubahan perilaku,” ujarnya.

Ia mengatakan, perubahan kondisi habitat juga diduga memengaruhi karakteristik fisik satwa. Kangguru yang mampu beradaptasi dengan lingkungan akan menyesuaikan diri dengan kondisi habitatnya.

Kangguru Papua, dan Landak Papua Kian Susah Ditemui

MERAUKE – Populasi sejumlah satwa liar di Papua Selatan, termasuk kangguru Papua (Macropus agilis), disebut mengalami penurunan. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada jumlah satwa di alam, tetapi juga memicu perubahan perilaku akibat tekanan terhadap habitat dan aktivitas manusia.

Perubahan perilaku itu membuat satwa yang sebelumnya relatif mudah ditemukan kini cenderung lebih sulit dijumpai karena memilih menjauh dan mencari lokasi yang dianggap lebih aman.

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Merauke Y. Agung Widya mengatakan, belum ada  Satwa endemik yang di Paoua Selatan yang punya, namun jumlahnya yang mengalami penurunan.

Baca Juga :  20 Warga Binaan Lapas Ikuti Pelatihan Elektrik    

“Kalau dikatakan satwa endemik, sebenarnya kita di sini belum ada yang sampai punah. Ini lebih kepada populasinya yang semakin berkurang. Kemudian perilaku satwa juga berubah karena tekanan dan sebagainya,” kata Y. Agung Widya, ditemui di Kantornya, Jumat (18/9).

Ia mencontohkan kangguru Papua (Macropus agilis). Dari sisi populasi, jumlah satwa tersebut diperkirakan mengalami penurunan. Tekanan berupa perburuan dan perubahan habitat membuat perilakunya ikut berubah.

Kangguru yang sebelumnya banyak beraktivitas di kawasan savana kini cenderung memilih kawasan peralihan atau ekoton, yakni wilayah pertemuan antara dua tipe ekosistem. Ketika mendeteksi keberadaan manusia, satwa tersebut akan segera berpindah menuju lokasi yang dianggap lebih aman.

Baca Juga :  Ratusan Sopir Tanki Air, Angkot dan Hilux Geruduk Kantor Bupati

“Kalau ada orang, dia cepat pindah ke lokasi yang aman. Dampaknya, satwa semakin mengalami perubahan perilaku,” ujarnya.

Ia mengatakan, perubahan kondisi habitat juga diduga memengaruhi karakteristik fisik satwa. Kangguru yang mampu beradaptasi dengan lingkungan akan menyesuaikan diri dengan kondisi habitatnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya