Populasi Satwa Endemik Papua Semakin Berkurang

Namun, untuk memastikan perubahan ukuran tubuh maupun kondisi populasi secara ilmiah, masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan metode transek yang pernah dilakukan di sejumlah kawasan, kangguru masih dapat ditemukan dengan kepadatan sekitar satu individu per hektare pada habitat tertentu.

Meski demikian, angka tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk memperkirakan jumlah populasi kangguru di seluruh kawasan Taman Nasional Wasur. Penghitungan populasi harus mempertimbangkan tipe ekosistem dan habitat yang sesuai bagi satwa tersebut.

“Taman Nasional Wasur kan banyak tipe ekosistemnya. Kita melihat habitatnya itu apa. Jadi tidak bisa dipukul rata dengan luasan kawasan Taman Nasional Wasur,” katanya.

Ia menambahkan, hingga kini pihaknya masih memerlukan kajian yang lebih menyeluruh mengenai populasi kangguru di kawasan konservasi. Keterbatasan anggaran juga membuat kegiatan inventarisasi satwa dilakukan berdasarkan skala prioritas.

Baca Juga :  Pemkab Merauke Resmi Berlakukan WFH

Selain kangguru, Papua juga memiliki sejumlah satwa khas lainnya, salah satunya ekidna atau landak Papua. Satwa tersebut terdiri dari ekidna moncong pendek dan moncong panjang.

Ekidna juga relatif sulit ditemukan karena merupakan satwa nokturnal atau lebih banyak beraktivitas pada malam hari. Karena itu, inventarisasi secara langsung di lapangan membutuhkan metode dan waktu pengamatan yang tepat.

“Kalau selama inventarisasi susah sekali, karena dia hewan malam. Tahun ini kami bersama BRIN juga ada rencana melakukan inventarisasi ekidna atau landak Papua,” jelasnya.

Sementara untuk kelompok burung, cenderawasih menjadi salah satu satwa yang mendapatkan perhatian melalui kegiatan inventarisasi. Data mengenai populasi dan persebarannya telah dikumpulkan dari kegiatan inventarisasi yang dilakukan sebelumnya.

Baca Juga :  Gubernur Apolo Ajak DPD ISKA Papsel Berkonstribu bagi Pembangunan Papua Selatan

Inventarisasi juga dilakukan terhadap beberapa jenis satwa lainnya, seperti mambruk dan kakatua putih merah di sejumlah wilayah Papua.

Kegiatan tersebut bertujuan mendapatkan gambaran mengenai kondisi populasi satwa di alam sekaligus menjadi dasar dalam menentukan langkah konservasi.

Namun, untuk memastikan perubahan ukuran tubuh maupun kondisi populasi secara ilmiah, masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan metode transek yang pernah dilakukan di sejumlah kawasan, kangguru masih dapat ditemukan dengan kepadatan sekitar satu individu per hektare pada habitat tertentu.

Meski demikian, angka tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk memperkirakan jumlah populasi kangguru di seluruh kawasan Taman Nasional Wasur. Penghitungan populasi harus mempertimbangkan tipe ekosistem dan habitat yang sesuai bagi satwa tersebut.

“Taman Nasional Wasur kan banyak tipe ekosistemnya. Kita melihat habitatnya itu apa. Jadi tidak bisa dipukul rata dengan luasan kawasan Taman Nasional Wasur,” katanya.

Ia menambahkan, hingga kini pihaknya masih memerlukan kajian yang lebih menyeluruh mengenai populasi kangguru di kawasan konservasi. Keterbatasan anggaran juga membuat kegiatan inventarisasi satwa dilakukan berdasarkan skala prioritas.

Baca Juga :  KPU Papua Selatan Monitoring Persiapan PSU Boven Digoel

Selain kangguru, Papua juga memiliki sejumlah satwa khas lainnya, salah satunya ekidna atau landak Papua. Satwa tersebut terdiri dari ekidna moncong pendek dan moncong panjang.

Ekidna juga relatif sulit ditemukan karena merupakan satwa nokturnal atau lebih banyak beraktivitas pada malam hari. Karena itu, inventarisasi secara langsung di lapangan membutuhkan metode dan waktu pengamatan yang tepat.

“Kalau selama inventarisasi susah sekali, karena dia hewan malam. Tahun ini kami bersama BRIN juga ada rencana melakukan inventarisasi ekidna atau landak Papua,” jelasnya.

Sementara untuk kelompok burung, cenderawasih menjadi salah satu satwa yang mendapatkan perhatian melalui kegiatan inventarisasi. Data mengenai populasi dan persebarannya telah dikumpulkan dari kegiatan inventarisasi yang dilakukan sebelumnya.

Baca Juga :  Pemkab Merauke Resmi Berlakukan WFH

Inventarisasi juga dilakukan terhadap beberapa jenis satwa lainnya, seperti mambruk dan kakatua putih merah di sejumlah wilayah Papua.

Kegiatan tersebut bertujuan mendapatkan gambaran mengenai kondisi populasi satwa di alam sekaligus menjadi dasar dalam menentukan langkah konservasi.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya