Tetap Bangun di Tepi Laut Karena Sudah Punya Pelepasan Adat

  Tidak ada barang yang berhasil diselamatkan. Satu unit sepeda motor, tiga kulkas, tiga mesin cuci, serta berbagai perabot rumah tangga ikut terbakar.

  Hal yang paling membuat Yusuf terpukul adalah uang tunai yang disimpannya di dalam lemari. Uang tersebut sebenarnya dipersiapkan untuk membangun rumah di Palopo, Sulawesi Selatan.

  Yusuf dan keluarganya telah merencanakan untuk pulang ke kampung halaman pada 2027 dan menghabiskan masa tua di sana. Namun, rencana tersebut kini pupus.

“Uang yang saya simpan di lemari itu rencananya untuk membangun rumah di Palopo. Kami berencana pulang ke kampung pada 2027 dan membangun rumah. Kalau rumah sudah jadi, kami ingin menghabiskan masa tua di kampung. Namun, kebakaran ini lebih dahulu menghabiskan uang kami,” katanya.

Baca Juga :  22 Kasus Tahun 2022, Meningkat Jadi 70 Kasus pada 2023

  Kerugian akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp500 juta. Kini Yusuf dan keluarganya harus memulai semuanya dari awal. Untuk sementara, ia bersama keluarganya menyewa kamar kos di kawasan Dok IX.

  Meski rumahnya telah rata dengan tanah, Yusuf masih menyimpan keinginan sederhana, kembali membangun rumah di lokasi yang sama. Menurutnya, lahan tersebut telah dimiliki keluarganya berdasarkan surat pelepasan adat dari Ondoafi.

   “Kalau ada biaya, saya ingin membangun kembali. Kalau pemerintah memberikan bantuan, kami akan membangun lagi di sini,” katanya.

  Yusuf tidak meminta banyak. Ia hanya berharap pemerintah dapat membantu menyediakan bahan bangunan, terutama kayu, agar rumah sederhana dapat kembali berdiri.

Baca Juga :  Setelah Bencana Harus Ada Perbaikan Tata Ruang

Sebagai nelayan, kondisi ekonomi pascakebakaran membuatnya belum mampu membangun kembali rumah seorang diri. “Kalau ada bantuan kayu, kami bisa membangun kembali,” ujarnya.

  Kisah serupa dialami Ida Gani bersama suaminya. Di posko pengungsian, Ida terlihat duduk termenung sembari menemani cucu-cucunya.  Pikirannya masih tertuju pada rumah yang mereka bangun sedikit demi sedikit melalui kerja keras selama bertahun-tahun. Rumah panggung berbahan kayu berukuran sekitar 8 x 7 meter itu baru saja selesai direnovasi. Lantai dua rumah tersebut hampir rampung dan rencananya akan ditempati bulan ini. Tangga menuju lantai dua hanya tinggal diselesaikan.

  Tidak ada barang yang berhasil diselamatkan. Satu unit sepeda motor, tiga kulkas, tiga mesin cuci, serta berbagai perabot rumah tangga ikut terbakar.

  Hal yang paling membuat Yusuf terpukul adalah uang tunai yang disimpannya di dalam lemari. Uang tersebut sebenarnya dipersiapkan untuk membangun rumah di Palopo, Sulawesi Selatan.

  Yusuf dan keluarganya telah merencanakan untuk pulang ke kampung halaman pada 2027 dan menghabiskan masa tua di sana. Namun, rencana tersebut kini pupus.

“Uang yang saya simpan di lemari itu rencananya untuk membangun rumah di Palopo. Kami berencana pulang ke kampung pada 2027 dan membangun rumah. Kalau rumah sudah jadi, kami ingin menghabiskan masa tua di kampung. Namun, kebakaran ini lebih dahulu menghabiskan uang kami,” katanya.

Baca Juga :  Kebakaran Lagi, 8 Petak Rumah Kost dan 5 Motor Hangus

  Kerugian akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp500 juta. Kini Yusuf dan keluarganya harus memulai semuanya dari awal. Untuk sementara, ia bersama keluarganya menyewa kamar kos di kawasan Dok IX.

  Meski rumahnya telah rata dengan tanah, Yusuf masih menyimpan keinginan sederhana, kembali membangun rumah di lokasi yang sama. Menurutnya, lahan tersebut telah dimiliki keluarganya berdasarkan surat pelepasan adat dari Ondoafi.

   “Kalau ada biaya, saya ingin membangun kembali. Kalau pemerintah memberikan bantuan, kami akan membangun lagi di sini,” katanya.

  Yusuf tidak meminta banyak. Ia hanya berharap pemerintah dapat membantu menyediakan bahan bangunan, terutama kayu, agar rumah sederhana dapat kembali berdiri.

Baca Juga :  Cara Elegan Menjawab Perundungan saat Klub Kesayangan Terpuruk

Sebagai nelayan, kondisi ekonomi pascakebakaran membuatnya belum mampu membangun kembali rumah seorang diri. “Kalau ada bantuan kayu, kami bisa membangun kembali,” ujarnya.

  Kisah serupa dialami Ida Gani bersama suaminya. Di posko pengungsian, Ida terlihat duduk termenung sembari menemani cucu-cucunya.  Pikirannya masih tertuju pada rumah yang mereka bangun sedikit demi sedikit melalui kerja keras selama bertahun-tahun. Rumah panggung berbahan kayu berukuran sekitar 8 x 7 meter itu baru saja selesai direnovasi. Lantai dua rumah tersebut hampir rampung dan rencananya akan ditempati bulan ini. Tangga menuju lantai dua hanya tinggal diselesaikan.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya