Tetap Bangun di Tepi Laut Karena Sudah Punya Pelepasan Adat

Geliat Warga Korban Kebakaran Untuk Kembali Membangun Rumah

Delapan hari sudah para korban kebakaran di Kelurahan Mandala bertahan hidup di Posko Pengungsian, adapun masa tanggap darurat tinggal beberapa hari lagi lantas dimanakah para korban tinggal setelah masa tanggap darurat berakhir ?

Laporan: Karolus Daot_Jayapura.

Terik matahari menyengat Kota Jayapura, Selasa (8/9). Di antara puing-puing sisa kebakaran di kawasan Mandala, sebagian warga mulai kembali beraktivitas. Sebagian memilah dan mengumpulkan besi tua dari reruntuhan rumah, sementara yang lain membersihkan sisa-sisa bangunan yang hangus terbakar. Namun, sebagian besar warga korban kebakaran masih bertahan di Posko pengungsian.

  Di tengah suasana tersebut, seorang pria tua duduk termenung. Tatapannya tertuju pada sebidang lahan kosong di tepi laut. Di tempat itulah rumahnya berdiri selama puluhan tahun sebelum musnah dalam kebakaran pada Senin (31/8). Pria tersebut adalah Yusuf Gahal warga RT 07/RW 02, Kelurahan Mandala.

Baca Juga :  Jauh-jauh Hari Lakukan Persiapan, Beragam Aspirasi dan Keluhan Siap Disampaikan

  Sesekali Yusuf menatap puing-puing yang tersisa. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap ramah ketika menyapa wartawan Cenderawasih Pos yang menghampirinya. “Mari duduk di sini. Cuaca siang ini terlalu panas, anak,” ujarnya dengan senyum tipis.

  Rumah Yusuf bukan sekadar tempat tinggal. Rumah kayu berukuran sekitar 8 x 20 meter itu dibangunnya sejak 1990. Selama puluhan tahun, rumah tersebut menjadi tempat berkumpul Yusuf bersama anak, menantu, dan cucu-cucunya.

  Sebanyak 20 orang tinggal di rumah tersebut, terdiri atas lima anak, tiga menantu, dan 10 cucu bersama Yusuf. Namun, dalam hitungan menit, semuanya berubah.

  Saat kebakaran terjadi, Yusuf sedang tidur siang. Teriakan warga membuatnya terbangun. Api dengan cepat membesar dan merambat akibat tiupan angin kencang.

Baca Juga :  Temukan 76 Sambungan Ilegal, Termasuk Ribuan SR Telah Disegel

   Dalam kepanikan, ia tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga. Prioritasnya hanya menyelamatkan diri dan cucu-cucunya. “Saya lari bersama cucu-cucu. Yang penting nyawa selamat,”tuturnya.

Geliat Warga Korban Kebakaran Untuk Kembali Membangun Rumah

Delapan hari sudah para korban kebakaran di Kelurahan Mandala bertahan hidup di Posko Pengungsian, adapun masa tanggap darurat tinggal beberapa hari lagi lantas dimanakah para korban tinggal setelah masa tanggap darurat berakhir ?

Laporan: Karolus Daot_Jayapura.

Terik matahari menyengat Kota Jayapura, Selasa (8/9). Di antara puing-puing sisa kebakaran di kawasan Mandala, sebagian warga mulai kembali beraktivitas. Sebagian memilah dan mengumpulkan besi tua dari reruntuhan rumah, sementara yang lain membersihkan sisa-sisa bangunan yang hangus terbakar. Namun, sebagian besar warga korban kebakaran masih bertahan di Posko pengungsian.

  Di tengah suasana tersebut, seorang pria tua duduk termenung. Tatapannya tertuju pada sebidang lahan kosong di tepi laut. Di tempat itulah rumahnya berdiri selama puluhan tahun sebelum musnah dalam kebakaran pada Senin (31/8). Pria tersebut adalah Yusuf Gahal warga RT 07/RW 02, Kelurahan Mandala.

Baca Juga :  Diduga Korsleting, 4 Bangunan Usaha Ludes Terbakar

  Sesekali Yusuf menatap puing-puing yang tersisa. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap ramah ketika menyapa wartawan Cenderawasih Pos yang menghampirinya. “Mari duduk di sini. Cuaca siang ini terlalu panas, anak,” ujarnya dengan senyum tipis.

  Rumah Yusuf bukan sekadar tempat tinggal. Rumah kayu berukuran sekitar 8 x 20 meter itu dibangunnya sejak 1990. Selama puluhan tahun, rumah tersebut menjadi tempat berkumpul Yusuf bersama anak, menantu, dan cucu-cucunya.

  Sebanyak 20 orang tinggal di rumah tersebut, terdiri atas lima anak, tiga menantu, dan 10 cucu bersama Yusuf. Namun, dalam hitungan menit, semuanya berubah.

  Saat kebakaran terjadi, Yusuf sedang tidur siang. Teriakan warga membuatnya terbangun. Api dengan cepat membesar dan merambat akibat tiupan angin kencang.

Baca Juga :  Pemkab Tolikara Pastikan Bantu Masyarakat yang Terdampak Kebakaran

   Dalam kepanikan, ia tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga. Prioritasnya hanya menyelamatkan diri dan cucu-cucunya. “Saya lari bersama cucu-cucu. Yang penting nyawa selamat,”tuturnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya