Namun, sebelum rencana tersebut terwujud, api lebih dahulu menghanguskan rumah mereka.
“Seandainya tidak terjadi kebakaran, kami sudah menempati lantai atas,” kata Ida.
Rumah tersebut dihuni bersama anak dan cucu. Bagi Ida, hal yang paling berharga bukan sekadar barang-barang di dalam rumah, melainkan rumah itu sendiri. Sebab, rumah tersebut dibangun sedikit demi sedikit melalui kerja keras keluarga. “Rumah itu yang paling utama. Rumah yang kami bangun dengan susah payah, sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Saat kebakaran terjadi, Ida bersama keluarganya masih berada di dalam rumah. Ia tidak langsung melihat api. Teriakan warga membuatnya menyadari bahwa kebakaran sedang terjadi.
Begitu keluar ke teras dan melihat api telah membesar, Ida kembali masuk ke kamar untuk menyelamatkan surat-surat penting. Hanya dokumen yang berhasil dibawa keluar. Seperti Yusuf, kini Ida dan keluarganya memilih untuk tetap membangun kembali rumah di lokasi yang sama apabila memperoleh bantuan bahan bangunan.
Keputusan tersebut diambil bukan karena tidak ada pilihan lain, melainkan karena lahan tersebut telah mereka miliki berdasarkan surat pelepasan adat. “Kalau ada bahan, kami akan langsung membangun karena masih ada pelepasan adat,” katanya.
Menurut Ida, bahan bangunan yang paling dibutuhkan antara lain kayu untuk tiang, papan, balok, tripleks, dan seng. Mereka tidak menuntut rumah permanen atau mewah. Rumah sederhana pun sudah cukup, asalkan dapat menjadi tempat berteduh dan berkumpul kembali bersama keluarga.
“Walaupun belum permanen, yang penting ada tempat untuk berteduh,” tuturnya.