Hutan Sagu Terendam, Warga Kesulitan Mencari Makanan

Melihat Dampak Naiknya Air Danau Di Kampung Yoboi

Setiap kali hujan turun, warga sibuk mengangkat barang untuk dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi, ingatan bencana Banjir Bandang Sentani 2019, mungkinkah terulang lagi.!

Laporan: Yohana_SENTANI

Jumat (3/4) Pagi itu, suasana di Kampung Yoboi terasa khidmat. Warga berkumpul di Gereja GKI Jemaat Maranatha Yoboi untuk mengikuti ibadah Jumat Agung mengenang wafatnya Yesus Kristus.

Di dalam gereja, doa-doa dipanjatkan dengan penuh penghayatan. Namun di luar, kecemasan perlahan tumbuh. Beberapa kaum bapak tampak bolak-balik keluar gereja.
Mata mereka tertuju ke arah Kali Yoboi yang mengalir deras. Aneh memang, karena hari itu hujan tidak turun. Tetapi air dari kali terus datang, membawa tumbuhan rawa dalam jumlah besar, mengalir menuju Danau Sentani dan membuat debit air semakin meningkat.

Baca Juga :  Pejabat Negara Pertama yang Mengaku Adanya Pelanggaran HAM masa lalu di Papua

Tanpa banyak bicara, para pria kampung segera bergerak. Mereka bergantian membersihkan jalur air, menarik tumpukan tumbuhan agar aliran tidak tersumbat. Mereka tahu, sedikit saja aliran terhambat, air bisa meluap lebih cepat ke permukiman.

Namun kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Hari-hari sebelumnya, hujan terus mengguyur wilayah Sentani. Setiap malam, warga hidup dalam kewaspadaan. Bapak-bapak dan mama-mama sibuk mengangkat barang ke tempat yang lebih tinggi ke loteng, ke atas meja, bahkan ke para-para darurat yang dibuat dari kulit batang sagu.

Perlahan, air mulai memasuki rumah-rumah. Dapur menjadi bagian pertama yang terendam. Air setinggi betis orang dewasa kini menggenangi ruang-ruang yang dulu menjadi tempat memasak dan berkumpul.

Baca Juga :  Maulid Nabi SAW Momen Tingkatkan Kebersamaan Dalam NKRI

Melihat Dampak Naiknya Air Danau Di Kampung Yoboi

Setiap kali hujan turun, warga sibuk mengangkat barang untuk dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi, ingatan bencana Banjir Bandang Sentani 2019, mungkinkah terulang lagi.!

Laporan: Yohana_SENTANI

Jumat (3/4) Pagi itu, suasana di Kampung Yoboi terasa khidmat. Warga berkumpul di Gereja GKI Jemaat Maranatha Yoboi untuk mengikuti ibadah Jumat Agung mengenang wafatnya Yesus Kristus.

Di dalam gereja, doa-doa dipanjatkan dengan penuh penghayatan. Namun di luar, kecemasan perlahan tumbuh. Beberapa kaum bapak tampak bolak-balik keluar gereja.
Mata mereka tertuju ke arah Kali Yoboi yang mengalir deras. Aneh memang, karena hari itu hujan tidak turun. Tetapi air dari kali terus datang, membawa tumbuhan rawa dalam jumlah besar, mengalir menuju Danau Sentani dan membuat debit air semakin meningkat.

Baca Juga :  Gagal Beraksi, Polisi Gadungan Berhasil Dibekuk

Tanpa banyak bicara, para pria kampung segera bergerak. Mereka bergantian membersihkan jalur air, menarik tumpukan tumbuhan agar aliran tidak tersumbat. Mereka tahu, sedikit saja aliran terhambat, air bisa meluap lebih cepat ke permukiman.

Namun kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Hari-hari sebelumnya, hujan terus mengguyur wilayah Sentani. Setiap malam, warga hidup dalam kewaspadaan. Bapak-bapak dan mama-mama sibuk mengangkat barang ke tempat yang lebih tinggi ke loteng, ke atas meja, bahkan ke para-para darurat yang dibuat dari kulit batang sagu.

Perlahan, air mulai memasuki rumah-rumah. Dapur menjadi bagian pertama yang terendam. Air setinggi betis orang dewasa kini menggenangi ruang-ruang yang dulu menjadi tempat memasak dan berkumpul.

Baca Juga :  Administrasi Pengelolaan Dana Kampung Perlu Dievaluasi

Berita Terbaru

Artikel Lainnya