Menyusuri Jejak Surat-surat RA Kartini lewat Museum
Peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni. Di Jepara, jejak pemikiran RA Kartini terasa hidup. Terutama saat membuka lagi lembar demi lembar suratnya, yang merekam kegelisahan, gagasan, hingga cita-cita besar tentang pendidikan dan kemerdekaan.
Laporan: Fikri Thoharudin_Jepara
BAGI Susi Ernawati Susindra, peneliti di Komunitas Rumah Kartini, selain lewat museum, memahami sosok RA Kartini dapat dimulai dari surat-suratnya. Ia menyebut, ada sekitar 180 surat Kartini yang diketahui. Jika ditambah dengan korespondensi keluarga, dari saudarnya, jumlah tersebut mencapai sekitar 236 surat. ”Surat-surat itu mengalir. Apa yang terjadi di pendapa, apa yang dia baca, apa yang dia rasakan. Semuanya tertuang di sana,” ungkapnya.
Menurut Susi, Kartini menulis kepada banyak sahabat dari berbagai latar belakang. Di antaranya Rosa Abendanon, Jacques Henri Abendanon, dan Stella Zeehandelaar. Juga tokoh-tokoh lain, seperti Ovink-Soer, hingga Hilda G. De Booij Boissevain. Dari korespondensi itu, tergambar bagaimana Kartini berdialog lintas budaya. Bahkan, lintas benua. Surat pertama yang dipublikasikan misalnya, ditujukan kepada Stella. Di sana, nuansa personal terasa kuat.Kartini berbicara tentang cita-cita, kegelisahan, hingga keinginannya menyejahterakan rakyat.
Sementara dalam surat kepada Ovink-Soer, Kartini lebih banyak membahas perkembangan pendidikan, rencana belajar ke Batavia, hingga dinamika berpikirnya yang semakin matang. Tak hanya itu, surat-surat tersebut, juga mencatat geliat ekonomi