Masih Syok! Sulit Lupakan Kenangan Tinggal di Rumah yang Kini Telah Hangus

  Ada yang membawa pakaian, makanan siap saji, perlengkapan dapur hingga kebutuhan anak-anak. Sejak pagi, arus kendaraan dan warga yang datang ke lokasi juga cukup padat. Tenda-tenda pengungsian dipenuhi berbagai bantuan pakaian dan kebutuhan lainnya.

   Dari jajaran Polda Papua, bantuan juga rutin diberikan. Hampir setiap sore, personel kepolisian terlihat datang membawa bingkisan untuk anak-anak yang berada di posko pengungsian.

  Bagi para korban, bantuan tersebut tentu sangat berarti. Namun, setelah kehilangan rumah dan harta benda dalam waktu singkat, mereka masih membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan.

   Jumiati, salah seorang korban kebakaran, mengaku hingga hari ketiga dirinya bersama anak-anak belum kembali beraktivitas seperti biasa. Rumahnya yang berada di RT 07 ludes terbakar.

Baca Juga :  Kirimkan Surat Cinta tanpa Kata untuk Presiden

   “Masih syok. Belum terpikirkan akan jadi seperti ini. Jadi selama tiga hari ini masih menenangkan diri di tenda saja,” ungkap Jumiati, Rabu (2/9)

  Beruntung, kata dia, kebakaran terjadi pada siang hari, sehingga dirinya dan keluarga masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri serta sejumlah barang berharga. “Ada beberapa pakaian, dan paling penting barang-barang berharga bisa kami selamatkan,” tuturnya.

   Jumiati mengaku bersyukur melihat respons Pemerintah Kota Jayapura yang bergerak cepat setelah kebakaran terjadi. Menurutnya, pemerintah langsung menyiapkan tenda pengungsian untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal. “Pemerintah luar biasa. Bahkan Wali Kota dan Wakil Wali Kota datang menemui kami di Posko. Harapannya ada bantuan agar kami bisa bangun rumah kembali,” katanya.

Baca Juga :  Wagub Papua Pegunungan Berharap Masyarakat Jaga Keamanan di Awal Tahun

  Jumiati telah tinggal di kawasan tersebut sejak 2005. Baginya, rumah yang terbakar bukan sekadar bangunan, tetapi tempat ia dan keluarganya menjalani kehidupan selama bertahun-tahun. Ia teringat bagaimana dirinya bersama keluarga berjuang membangun rumah tersebut meski hanya berupa rumah kayu.

  Ada yang membawa pakaian, makanan siap saji, perlengkapan dapur hingga kebutuhan anak-anak. Sejak pagi, arus kendaraan dan warga yang datang ke lokasi juga cukup padat. Tenda-tenda pengungsian dipenuhi berbagai bantuan pakaian dan kebutuhan lainnya.

   Dari jajaran Polda Papua, bantuan juga rutin diberikan. Hampir setiap sore, personel kepolisian terlihat datang membawa bingkisan untuk anak-anak yang berada di posko pengungsian.

  Bagi para korban, bantuan tersebut tentu sangat berarti. Namun, setelah kehilangan rumah dan harta benda dalam waktu singkat, mereka masih membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan.

   Jumiati, salah seorang korban kebakaran, mengaku hingga hari ketiga dirinya bersama anak-anak belum kembali beraktivitas seperti biasa. Rumahnya yang berada di RT 07 ludes terbakar.

Baca Juga :  Tak Ada Ritual Khusus, Sisa Tulang Belulang Dikafani dan Dikubur di Tempat Baru

   “Masih syok. Belum terpikirkan akan jadi seperti ini. Jadi selama tiga hari ini masih menenangkan diri di tenda saja,” ungkap Jumiati, Rabu (2/9)

  Beruntung, kata dia, kebakaran terjadi pada siang hari, sehingga dirinya dan keluarga masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri serta sejumlah barang berharga. “Ada beberapa pakaian, dan paling penting barang-barang berharga bisa kami selamatkan,” tuturnya.

   Jumiati mengaku bersyukur melihat respons Pemerintah Kota Jayapura yang bergerak cepat setelah kebakaran terjadi. Menurutnya, pemerintah langsung menyiapkan tenda pengungsian untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal. “Pemerintah luar biasa. Bahkan Wali Kota dan Wakil Wali Kota datang menemui kami di Posko. Harapannya ada bantuan agar kami bisa bangun rumah kembali,” katanya.

Baca Juga :  Tok, ABR-Harus Ditetapkan Menang Pilkada Kota Jayapura

  Jumiati telah tinggal di kawasan tersebut sejak 2005. Baginya, rumah yang terbakar bukan sekadar bangunan, tetapi tempat ia dan keluarganya menjalani kehidupan selama bertahun-tahun. Ia teringat bagaimana dirinya bersama keluarga berjuang membangun rumah tersebut meski hanya berupa rumah kayu.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya