Satu Cerita Tak Menarik dari Semangat Pembangunan yang Diusung Pemerintah Bagi Pekerja Seni
Hutan yang dahulu menjadi ‘toko bahan baku’ alami tempat memilin serat-serat berkualitas, kini perlahan hilang. Tergerus laju alih fungsi lahan. Semangat pemerintah membangun mengoyak keberadaan bahan baku perajut
Laporan: Jimianus Karlodi_Kota Jayapura
Di balik lemari kaca museum, artefak budaya Papua menyimpan jejak peradaban yang begitu panjang dan kaya. Namun hari ini, kisah itu terancam menjadi bab terakhir. Kebudayaan material Papua tengah berada di ujung tanduk krisis eksistensial.
Masalah mendasar yang memicu krisis ini bukanlah kurangnya upaya museum dalam mengumpulkan benda bersejarah, melainkan dua akar masalah mendasar yang saling terikat yakni terputusnya regenerasi perajin adat dan semakin langkanya bahan baku alam di lingkungan sekitar.

Penyebab pertama mengakar pada pergeseran sosial yang berlangsung cepat sejak awal milenium. Sejak memasuki tahun 2000-an, gelombang modernisasi, pergerakan dinamika Otonomi Khusus, serta fokus masyarakat yang bergeser ke pendidikan formal membuat praktik pembuatan benda-benda adat di kampung mulai ditinggalkan.
Generasi muda tidak lagi mewarisi kepiawaian orang tua mereka. Akibatnya, tradisi pemuatan instrumen penting seperti tifa di perkotaan Jayapura terhenti total, hingga masyarakat setempat harus meminjam keahlian dari suku lain demi menggelar pesta adat.
Kepala dan Kurator Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen), Enrico Yory Kondologit menyebutkan bahwa, fenomena ini terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat di perkotaan. Di Kota Jayapura contohnya, tradisi pembuatan instrumen musik tradisional seperti tifa perlahan berhenti, sehingga masyarakat setempat harus mengandalkan perajin dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan upacara adat mereka.
Kondisi tersebut memperlihatkan betapa rentannya keberlangsungan kebudayaan material di tingkat lokal, di mana dominasi pengrajin kini hanya terpusat pada beberapa wilayah adat tertentu saja yang masih konsisten menjaga warisan tradisinya.
”Di Kayu Batu saja yang terkenal dengan tarian, tifanya itu sudah orang Serui yang buat, bukan orang asli Kota Jayapura. Jadi kitong (Kita) betul-betul kesulitan sekali untuk mendapatkan koleksi yang ada di milik suku-suku bangsa di daerah masing-masing,” ungkap Enrico.
Menurutnya, kerusakan lingkungan dan praktik penebangan hutan secara masif di Tanah Papua kini tidak lagi sekadar menjadi isu ekologi, melainkan telah menjelma menjadi krisis kebudayaan yang serius. Tergerusnya kawasan hutan hujan tropis secara perlahan membunuh rantai produksi kerajinan tangan tradisional, khususnya seni anyam-menganyam yang menjadi identitas penting masyarakat adat perlahan menghilang.