JAYAPURA – Maraknya kasus perundungan dan kekerasan seksual verbal berbasis digital yang melibatkan belasan siswa di SMA Negeri 4 Jayapura terus memantik perhatian serius berbagai kalangan, termasuk dari sektor akademisi.
Peristiwa obrolan tidak pantas di grup WhatsApp yang beredar di media sosial tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwasanya edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan batas-batas etika perilaku remaja di era digital masih memerlukan perhatian mendalam.
Menanggapi fenomena tersebut, Dosen sekaligus Psikolog dari Universitas Cenderawasih (Uncen), Dr. Yosefina Marijke Watofa, M.Psi., menekankan pentingnya pendekatan yang tidak sekadar mengedepankan sanksi hukum atau administratif.
Menurutnya, pihak institusi pendidikan bersama para pemangku kepentingan perlu menciptakan saluran komunikasi yang sehat bagi para peserta didik guna membicarakan topik-topik sensitif secara ilmiah dan terarah.
“Kalau saran saya, sekolah perlu buka ruang untuk siswa SMA jika mereka ingin diskusi atau cari tahu atau bicara tentang seksualitas sesuai dengan usia perkembangannya,” tegas Yosefina kepada Cenderawasih Pos, Selasa (1/9).
Yosefina menguraikan bahwa pesatnya perkembangan teknologi informasi dan keterbukaan media sosial saat ini membuat para remaja dapat dengan sangat mudah mengakses beragam konten mengenai seksualitas.
Namun, ketersediaan data secara liar di internet sering kali tidak dibarengi dengan kemampuan menyaring mana informasi yang edukatif dan mana yang bersifat merusak.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada cara berpikir serta pola perilaku remaja yang cenderung belum matang dalam memilah etika berkomunikasi. Tanpa adanya pendampingan dan bimbingan yang memadai, anak-anak berpotensi besar mengadopsi bahasa maupun tindakan penyimpangan seksual verbal yang mereka temui di ruang digital.
“Ingat bahwa informasi di media tuh sudah sangat terbuka, sehingga anak-anak bisa searching untuk cari tahu tentang seksualitas yang belum tentu disaring. Mereka akan jiplak info itu tanpa mempertimbangkan benar atau tidak, baik atau tidak, pantas kah tidak kah,” ungkap akademisi Universitas Cenderawasih tersebut.