Lebih lanjut, Yosefina menyoroti bahwa tindakan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan sekolah harus melibatkan kolaborasi aktif antara orang tua di rumah dan guru di sekolah. Edukasi seksualitas tidak boleh lagi dianggap sebagai hal yang tabu untuk didiskusikan, melainkan harus disampaikan melalui metode pengajaran yang tepat serta berorientasi pada pembentukan karakter.
Sekolah diharapkan tidak hanya menyampaikan materi biologi secara kaku, melainkan mengintegrasikannya dengan pemahaman etika, moralitas, dan konsekuensi hukum dari tindakan kekerasan verbal. Hal ini menjadi krusial agar para siswa memahami batas-batas norma yang berlaku di masyarakat.
“Sehingga hal yang perlu dilakukan adalah orang tua memberi tahu secara baik tentang seksualitas ke remaja dan memberi ruang ke anak untuk diskusi, dan sekolah pun menyiapkan hal atau materi pelajaran biologi yang sesuai untuk anak-anak mereka mengenai fungsi-fungsi organ tubuh, tapi dengan catatan harus disertai norma-norma sesuai umur remaja,” paparnya.
Yosefina mengingatkan kembali bahwa masa remaja adalah fase transisi yang diwarnai oleh lonjakan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Dorongan untuk bereksplorasi yang tidak disertai dengan pemahaman norma dan bimbingan matang sering kali menjadi pemicu munculnya perilaku perundungan verbal maupun pelanggaran etika di sekolah.
Oleh karena itu, penyediaan ruang aman untuk berdiskusi serta penguatan pengawasan berbasis kasih sayang dinilai sebagai fondasi paling utama dalam meminimalkan potensi berulangnya kasus serupa di SMAN 4 Jayapura maupun sekolah lainnya.
“Tumbuh kembang anak remaja itu penuh dengan rasa ingin tahu dan dorongan yang belum tentu pas untuk diwujudnyatakan dalam perilaku yang tepat karena usia mereka yang masih muda,” pungkas Yosefina. (jim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Lebih lanjut, Yosefina menyoroti bahwa tindakan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan sekolah harus melibatkan kolaborasi aktif antara orang tua di rumah dan guru di sekolah. Edukasi seksualitas tidak boleh lagi dianggap sebagai hal yang tabu untuk didiskusikan, melainkan harus disampaikan melalui metode pengajaran yang tepat serta berorientasi pada pembentukan karakter.
Sekolah diharapkan tidak hanya menyampaikan materi biologi secara kaku, melainkan mengintegrasikannya dengan pemahaman etika, moralitas, dan konsekuensi hukum dari tindakan kekerasan verbal. Hal ini menjadi krusial agar para siswa memahami batas-batas norma yang berlaku di masyarakat.
“Sehingga hal yang perlu dilakukan adalah orang tua memberi tahu secara baik tentang seksualitas ke remaja dan memberi ruang ke anak untuk diskusi, dan sekolah pun menyiapkan hal atau materi pelajaran biologi yang sesuai untuk anak-anak mereka mengenai fungsi-fungsi organ tubuh, tapi dengan catatan harus disertai norma-norma sesuai umur remaja,” paparnya.
Yosefina mengingatkan kembali bahwa masa remaja adalah fase transisi yang diwarnai oleh lonjakan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Dorongan untuk bereksplorasi yang tidak disertai dengan pemahaman norma dan bimbingan matang sering kali menjadi pemicu munculnya perilaku perundungan verbal maupun pelanggaran etika di sekolah.
Oleh karena itu, penyediaan ruang aman untuk berdiskusi serta penguatan pengawasan berbasis kasih sayang dinilai sebagai fondasi paling utama dalam meminimalkan potensi berulangnya kasus serupa di SMAN 4 Jayapura maupun sekolah lainnya.
“Tumbuh kembang anak remaja itu penuh dengan rasa ingin tahu dan dorongan yang belum tentu pas untuk diwujudnyatakan dalam perilaku yang tepat karena usia mereka yang masih muda,” pungkas Yosefina. (jim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q