Pemerintah Klaim Pengangguran Turun 4,65%

Realitanya 7,22 Juta Jiwa Cari Kerja, Anak Muda Paling Terdampak

KUDUS – Pemerintah memang mencatat adanya penurunan statistik pada angka pengangguran nasional, tetapi kondisi objektif di lapangan menunjukkan tantangan pencari kerja yang makin berat. Bagi angkatan kerja muda, peluang memperoleh pekerjaan yang layak masih amat terbatas. Ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lowongan pekerjaan memicu persaingan yang kian sengit dan tidak seimbang di pasar kerja nasional.

Dalam acara Kick Off Pelatihan Vokasi Nasional Tahun 2026 Angkatan 4 yang digelar secara hibrida dari Serang, Banten, Selasa (1/9/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa persoalan struktural di sektor ketenagakerjaan masih menjadi beban besar bagi pemerintah.

Baca Juga :  Disnakertrans Dorong Peningkatan SDM OAP Melalui Pelatihan Alat Berat dan K3

Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) secara statistik mengalami penurunan tipis dari 4,68 persen pada Februari 2026 menjadi 4,65 persen pada Mei 2026, jumlah riil penganggur di Indonesia masih sangat tinggi, yakni mencapai 7,22 juta orang. Ironisnya, porsi terbesar dari total pengangguran tersebut mendominasi kelompok usia muda.

Sekitar 67 persen dari keseluruhan penganggur, atau setara dengan 4,8 juta jiwa, merupakan anak muda yang berada pada rentang usia produktif. Tingkat pengangguran pada kelompok muda ini berada di kisaran 7 hingga 22 persen, jauh melampaui persentase pengangguran pada kelompok usia lainnya. Kondisi ini memperjelas adanya ketimpangan nyata antara pertumbuhan angkatan kerja baru dan penyerapan tenaga kerja oleh industri.

Baca Juga :  Alih Status ASN-Aparat Jadi Titik Rawan

Realitanya 7,22 Juta Jiwa Cari Kerja, Anak Muda Paling Terdampak

KUDUS – Pemerintah memang mencatat adanya penurunan statistik pada angka pengangguran nasional, tetapi kondisi objektif di lapangan menunjukkan tantangan pencari kerja yang makin berat. Bagi angkatan kerja muda, peluang memperoleh pekerjaan yang layak masih amat terbatas. Ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lowongan pekerjaan memicu persaingan yang kian sengit dan tidak seimbang di pasar kerja nasional.

Dalam acara Kick Off Pelatihan Vokasi Nasional Tahun 2026 Angkatan 4 yang digelar secara hibrida dari Serang, Banten, Selasa (1/9/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa persoalan struktural di sektor ketenagakerjaan masih menjadi beban besar bagi pemerintah.

Baca Juga :  Lodewijk Akui Empat Daerah di Papua Masuk Kategori Rawan

Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) secara statistik mengalami penurunan tipis dari 4,68 persen pada Februari 2026 menjadi 4,65 persen pada Mei 2026, jumlah riil penganggur di Indonesia masih sangat tinggi, yakni mencapai 7,22 juta orang. Ironisnya, porsi terbesar dari total pengangguran tersebut mendominasi kelompok usia muda.

Sekitar 67 persen dari keseluruhan penganggur, atau setara dengan 4,8 juta jiwa, merupakan anak muda yang berada pada rentang usia produktif. Tingkat pengangguran pada kelompok muda ini berada di kisaran 7 hingga 22 persen, jauh melampaui persentase pengangguran pada kelompok usia lainnya. Kondisi ini memperjelas adanya ketimpangan nyata antara pertumbuhan angkatan kerja baru dan penyerapan tenaga kerja oleh industri.

Baca Juga :  Ajari OAP  Cara “Menjual” Potensi Diri

Berita Terbaru

Artikel Lainnya