Tradisi Anyam Papua Terancam Hilang Akibat Bahan Baku yang Semakin Sulit

Ungkapnya, tradisi ukiran dan seni pahat yang melimpah praktis kini hanya bertahan di empat wilayah adat saja, yakni Sentani, Biak, Kamoro, dan Asmat. Wilayah lainnya perlahan kehilangan perajin otentik. Penyebab kedua yang tak kalah krusial adalah kehancuran bentang alam.

Hal ini sebut Enrico terjadi karena, pohon-pohon penyedia serat kayu dan tumbuhan khusus seperti anggrek hutan kian sulit ditemukan. Hutan yang dahulu menjadi ‘toko bahan baku’ alami tempat mereka memetik serat-serat berkualitas, kini kian tergerus oleh laju pembangunan dan alih fungsi lahan.

​Tanpa vegetasi asli tersebut, para perempuan adat tidak lagi mampu menciptakan mahakarya anyaman yang menjadi identitas budaya mereka. Noken serat anggrek artefak bernilai estetika dan sosial tinggi yang dulunya menjadi mahkota karya tangan perempuan Papua kini berada di ambang kepunahan dari rumahnya sendiri.

Baca Juga :  Menanam Pohon, Menanam Kehidupan, Menyelamatkan Nyawa

Lanjut Enrico menjelaskan bahwa dalam tatanan sosial masyarakat adat Papua, perempuan memainkan peran sentral sebagai penjaga kebudayaan material. Keterampilan mengolah serat kayu dan benang anggrek tidak pernah diajarkan lewat buku, melainkan melalui pengamatan, pendampingan, dan penularan rasa kasih sayang dari seorang ibu kepada anak perempuannya.

​Ketika bahan baku dari hutan tidak lagi bisa dibawa pulang ke rumah, proses pembelajaran alami di tingkat keluarga itu terhenti total. Generasi muda perempuan Papua kehilangan kesempatan untuk memegang, membersihkan, meraut, hingga merajut serat anggrek yang asli.

Tanpa adanya upaya konservasi tumbuhan lokal dan penyelamatan hutan tersisa di sekitar Jayapura. Benda-benda kebudayaan material seperti pakaian adat, aksesori, hingga noken anggrek tradisional kini terancam hanya akan menjadi barang pameran di etalase museum, sebuah mahakarya yang pernah hidup, namun matinya di tangan generasi kita sendiri.

Baca Juga :  Lakukan Pengawasan PSU, Bawaslu Terima Dua Laporan

​”Mama-mama tidak bisa lagi di Jayapura sini bikin mereka punya noken karena bahan baku sudah tidak ada. Mau pakai bahan apa kalau mau bikin? Ya akhirnya baru sekarang ada benang wol jadi orang bisa anyam dari sintetis. Tapi bahan baku yang aslinya macam noken anggrek, tidak ada. Mau dapat di mana?” tutur Enrico prihatin.

​Kelangkaan bahan alam dan hilangnya sosok perajin membuat museum-museum di Papua mandek. Dua pilar utama pencarian koleksi otentik, yakni hibah dari masyarakat adat dan penjelajahan langsung (hunting) ke kampung-kampung, kini lumpuh total.

Ungkapnya, tradisi ukiran dan seni pahat yang melimpah praktis kini hanya bertahan di empat wilayah adat saja, yakni Sentani, Biak, Kamoro, dan Asmat. Wilayah lainnya perlahan kehilangan perajin otentik. Penyebab kedua yang tak kalah krusial adalah kehancuran bentang alam.

Hal ini sebut Enrico terjadi karena, pohon-pohon penyedia serat kayu dan tumbuhan khusus seperti anggrek hutan kian sulit ditemukan. Hutan yang dahulu menjadi ‘toko bahan baku’ alami tempat mereka memetik serat-serat berkualitas, kini kian tergerus oleh laju pembangunan dan alih fungsi lahan.

​Tanpa vegetasi asli tersebut, para perempuan adat tidak lagi mampu menciptakan mahakarya anyaman yang menjadi identitas budaya mereka. Noken serat anggrek artefak bernilai estetika dan sosial tinggi yang dulunya menjadi mahkota karya tangan perempuan Papua kini berada di ambang kepunahan dari rumahnya sendiri.

Baca Juga :  Panpil MRP Banyak Menuai Protes

Lanjut Enrico menjelaskan bahwa dalam tatanan sosial masyarakat adat Papua, perempuan memainkan peran sentral sebagai penjaga kebudayaan material. Keterampilan mengolah serat kayu dan benang anggrek tidak pernah diajarkan lewat buku, melainkan melalui pengamatan, pendampingan, dan penularan rasa kasih sayang dari seorang ibu kepada anak perempuannya.

​Ketika bahan baku dari hutan tidak lagi bisa dibawa pulang ke rumah, proses pembelajaran alami di tingkat keluarga itu terhenti total. Generasi muda perempuan Papua kehilangan kesempatan untuk memegang, membersihkan, meraut, hingga merajut serat anggrek yang asli.

Tanpa adanya upaya konservasi tumbuhan lokal dan penyelamatan hutan tersisa di sekitar Jayapura. Benda-benda kebudayaan material seperti pakaian adat, aksesori, hingga noken anggrek tradisional kini terancam hanya akan menjadi barang pameran di etalase museum, sebuah mahakarya yang pernah hidup, namun matinya di tangan generasi kita sendiri.

Baca Juga :  Bukan Sekedar Ancaman Fisik Tapi Juga Terhadap Simbol dan Martabat Lembaga Keagamaan

​”Mama-mama tidak bisa lagi di Jayapura sini bikin mereka punya noken karena bahan baku sudah tidak ada. Mau pakai bahan apa kalau mau bikin? Ya akhirnya baru sekarang ada benang wol jadi orang bisa anyam dari sintetis. Tapi bahan baku yang aslinya macam noken anggrek, tidak ada. Mau dapat di mana?” tutur Enrico prihatin.

​Kelangkaan bahan alam dan hilangnya sosok perajin membuat museum-museum di Papua mandek. Dua pilar utama pencarian koleksi otentik, yakni hibah dari masyarakat adat dan penjelajahan langsung (hunting) ke kampung-kampung, kini lumpuh total.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya