“Tapi mau bagaimana, semua terjadi. Kalau dipikir-pikir, dulu susah payah bangun rumah, tapi musibah datang, sekejap hilang. Tapi kami yakin Allah SWT sudah siapkan yang terbaik bagi kami para korban,” ujarnya.
Rasa kehilangan juga dirasakan Octovianus Aronggear. Saat kebakaran terjadi, Octovianus sedang berada di luar rumah. Setelah menerima telepon, ia segera menuju lokasi. Saat tiba, api sudah mendekati rumahnya. “Kebakaran itu berasal dari belakang. Begitu saya terima telepon, saya langsung tiba di lokasi. Memang apinya sudah dekat dengan rumah saya,” katanya.
Dalam kondisi panik, keluarga hanya mampu menyelamatkan barang-barang yang dianggap paling penting. Salah satunya adalah ijazah. “Yang bisa kita selamatkan yang ada saja, terutama ijazah-ijazah. Itu saja. Yang lain tidak,” tuturnya.
Rumah milik anaknya tersebut ludes terbakar. Rumah kayu itu sebelumnya menjadi tempat berkumpul keluarga. Bagi Octovianus, kehilangan rumah tersebut terasa sangat berat karena rumah itu dibeli dan dibangun dari hasil kerja keras anaknya.
“Yang dirindukan ini rumah dari hasil jerih payah anak saya. Dia dari hasil keringat dia. Yang menyatukan kami semua, orang tua dan kakak-kakaknya. Kami ada di rumah itu. Sehingga ini yang membuat kami sedih,” katanya.
Rumah tersebut baru dibeli sekitar empat tahun lalu. Banyak bagian rumah yang telah direnovasi dan diperbaiki. Bahkan, menurut Octovianus, anaknya tetap bertahan di sekitar rumah ketika api mulai mendekat karena masih berusaha menyelamatkan tempat tinggal yang dibangunnya dengan susah payah.
“Kita sampai sudah bilang, saya sebagai bapaknya bilang, ‘Mari sudah, kita ikhlas.’ Tapi dia tidak mau pergi. Api sudah mendekat, dia hanya mundur sebentar saja. Sampai sudah ludes baru dia keluar,” kenangnya.
Untuk sementara, keluarga Octovianus memilih tetap berada di lokasi pengungsian karena proses pendataan masih berlangsung. Sejumlah barang yang berhasil diselamatkan telah dipindahkan ke rumahnya di Hamadi agar lebih aman.
Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah air minum, makanan, fasilitas mandi dan mencuci, serta pelayanan kesehatan bagi warga, terutama bayi dan anak-anak. “Yang penting untuk menanggulangi situasi kondisi sekarang mungkin seperti air minum, bahan makanan, kemudian air MCK. Lalu kesehatan, mungkin bantuan kesehatan untuk anak-anak kita yang bayi-bayi ini bisa teratasi,” harapnya.