Unipa: Kearifan Lokal Kunci Keberhasilan Kelola Karbon di Tanah Papua

ANTARA – Akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Papua (Unipa) Obet N. Lense mengatakankearifan lokal masyarakat adat Papua menjadi faktor kunci dalam mendukung keberhasilan pengelolaan karbon dan upaya mitigasi perubahan iklim di Tanah Papua. Menurut Obet, masyarakat adat tidak boleh diposisikan hanya sebagai objek dalam berbagai program pengelolaan sumber daya alam, melainkan sebagai mitra sejajar yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga dalam menjaga lingkungan.

“Kami sebagai akademisi selalu menempatkan diri sejajar dengan masyarakat hukum adat. Bahkan dalam banyak kesempatan, pengetahuan yang dimiliki masyarakat adat jauh melampaui pengetahuan yang kami peroleh di kampus,” katanya dalam kegiatan diskusi terkait pengelolaan karbon bersama Konservasi Indonesia (KI) dan para jurnalis di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis.

Baca Juga :  Bupati Tolikara Kembangkan Kampung Agrowisata Terpadu

Ia menjelaskan setiap penelitian yang dilakukan pihak kampus selalu mengedepankan penggabungan antara pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah agar menghasilkan rekomendasi yang lebih sesuai dengan kondisi lapangan.Obet mengatakan Papua memiliki kekayaan ekosistem yang sangat penting dalam mendukung upaya pengurangan emisi karbon global.

Kawasan hutan tropis di Tanah Papua diperkirakan mencapai 31 hingga 35 juta hektare, disertai ekosistem mangrove dan padang lamun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap karbon. Ia menyebut sekitar 34 persen kawasan mangrove Indonesia berada di Tanah Papua. Selain itu ekosistem lamun juga memiliki kemampuan penyerapan karbon yang sangat cepat sehingga berpotensi menjadi bagian penting dalam pengembangan karbon biru pada masa depan.

Baca Juga :  Konflik 7 Bulan, Dua Kubu Sepakat Belah Kayu Doli

ANTARA – Akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Papua (Unipa) Obet N. Lense mengatakankearifan lokal masyarakat adat Papua menjadi faktor kunci dalam mendukung keberhasilan pengelolaan karbon dan upaya mitigasi perubahan iklim di Tanah Papua. Menurut Obet, masyarakat adat tidak boleh diposisikan hanya sebagai objek dalam berbagai program pengelolaan sumber daya alam, melainkan sebagai mitra sejajar yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga dalam menjaga lingkungan.

“Kami sebagai akademisi selalu menempatkan diri sejajar dengan masyarakat hukum adat. Bahkan dalam banyak kesempatan, pengetahuan yang dimiliki masyarakat adat jauh melampaui pengetahuan yang kami peroleh di kampus,” katanya dalam kegiatan diskusi terkait pengelolaan karbon bersama Konservasi Indonesia (KI) dan para jurnalis di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis.

Baca Juga :  Isu Rasisme masih Menjadi Luka Mendalam Bagi Masyarakat Papua

Ia menjelaskan setiap penelitian yang dilakukan pihak kampus selalu mengedepankan penggabungan antara pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah agar menghasilkan rekomendasi yang lebih sesuai dengan kondisi lapangan.Obet mengatakan Papua memiliki kekayaan ekosistem yang sangat penting dalam mendukung upaya pengurangan emisi karbon global.

Kawasan hutan tropis di Tanah Papua diperkirakan mencapai 31 hingga 35 juta hektare, disertai ekosistem mangrove dan padang lamun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap karbon. Ia menyebut sekitar 34 persen kawasan mangrove Indonesia berada di Tanah Papua. Selain itu ekosistem lamun juga memiliki kemampuan penyerapan karbon yang sangat cepat sehingga berpotensi menjadi bagian penting dalam pengembangan karbon biru pada masa depan.

Baca Juga :  Konflik 7 Bulan, Dua Kubu Sepakat Belah Kayu Doli

Berita Terbaru

Artikel Lainnya