SOLO- Ribuan titik panas kembali mengepung Pulau Kalimantan. Hingga Kamis (20/8), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.487 titik panas terdeteksi berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 767 titik, disusul Kalimantan Barat dengan 560 titik.
Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara tiga titik. Angka tersebut menjadi alarm serius di tengah puncak musim kemarau 2026. Terlebih, pemerintah sebenarnya sudah mengetahui ancaman karhutla sejak jauh-jauh hari.
Kementerian Kehutanan pada Juli lalu menyebut peningkatan hotspot nasional mencapai 166,99 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pemerintah juga telah memprediksi risiko karhutla meningkat seiring kondisi kemarau dan pengaruh El Nino. Artinya, kemunculan ribuan titik panas pada Agustus bukan sepenuhnya kejutan. Ancaman tersebut sudah terdeteksi ketika musim kemarau mulai berlangsung.
Bahkan, pemerintah telah menetapkan berbagai langkah antisipasi. Di Kalimantan Selatan, misalnya, status siaga darurat karhutla ditetapkan sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026. Kementerian Kehutanan juga menyiagakan 180 personel Manggala Agni di tiga daerah operasi untuk melakukan patroli, pemantauan hotspot, pemadaman dini, dan edukasi kepada masyarakat.
SOLO- Ribuan titik panas kembali mengepung Pulau Kalimantan. Hingga Kamis (20/8), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.487 titik panas terdeteksi berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 767 titik, disusul Kalimantan Barat dengan 560 titik.
Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara tiga titik. Angka tersebut menjadi alarm serius di tengah puncak musim kemarau 2026. Terlebih, pemerintah sebenarnya sudah mengetahui ancaman karhutla sejak jauh-jauh hari.
Kementerian Kehutanan pada Juli lalu menyebut peningkatan hotspot nasional mencapai 166,99 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pemerintah juga telah memprediksi risiko karhutla meningkat seiring kondisi kemarau dan pengaruh El Nino. Artinya, kemunculan ribuan titik panas pada Agustus bukan sepenuhnya kejutan. Ancaman tersebut sudah terdeteksi ketika musim kemarau mulai berlangsung.
Bahkan, pemerintah telah menetapkan berbagai langkah antisipasi. Di Kalimantan Selatan, misalnya, status siaga darurat karhutla ditetapkan sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026. Kementerian Kehutanan juga menyiagakan 180 personel Manggala Agni di tiga daerah operasi untuk melakukan patroli, pemantauan hotspot, pemadaman dini, dan edukasi kepada masyarakat.