Meski diterpa ujian berat, Ibu Ondi dan warga pesisir Hamadi lainnya mengaku tidak berkecil hati. Mereka terus bertahan dan berharap fenomena ini dapat segera berakhir, sehingga keindahan Pantai Hamadi dapat pulih dan wisatawan kembali berdatangan.
Merespon situasi tersebut, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura, Heri Purnomo, S.Si, memberikan penanganan teknis terkait sifat fisik pergerakan batu apung yang melanda pesisir Jayapura, Biak, hingga Sarmi. Menurutnya, perpindahan material ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dinamika cuaca dan laut.
“Pergerakan batu apung yang saat ini sudah berada di pesisir Jayapura, Biak maupun Sarmi perpindahannya dapat digerakkan dengan berbagai faktor cuaca seperti arus, angin, ombak maupun pasang surut karena sifat fisiknya yang ringan dan terapung,” terang Heri kepada Cenderawasih Pos.
Namun, Heri juga menggarisbawahi penyebab mengapa material batu apung tersebut cenderung mengendap lama di bibir pantai dan sulit hilang secara alami. Hal ini terjadi lantaran batu apung tersebut telah terperangkap dan menyatu dengan tumpukan sampah domestik.
Mengingat kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas para nelayan, jalur pelayaran, hingga sektor pariwisata, Heri menyarankan adanya tindakan pembersihan terpadu yang melibatkan instansi lintas sektor.
“Jika keberadaan batu apung yang saat ini berada di perairan utara Papua mengganggu aktivitas nelayan maupun pelayaran, dapat dipertimbangkan untuk dibersihkan melalui instansi-instansi terkait,” imbaunya. (jim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q