“Ini sampah dari kapal yang berlayar di tengah laut. Kalau dari masyarakat sekitar ada, tapi tidak terlalu. Ini sampah buangan dari kapal ini,” jelas penjaga pantai tersebut.
Limbah-limbah tersebut terdorong oleh gelombang dan akhirnya terdampar di daratan setiap kali air laut mengalami pasang.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, lelah fisik dan mental harus dihadapi para pengelola pantai demi menjaga tempat usaha mereka tetap beroperasi. Ibu Ondi, salah seorang warga setempat yang mengelola dan menjaga kawasan Pantai Hamadi, mengaku harus bertarung melawan gempuran sampah yang tak kunjung habis.
Setiap hari, Ibu Ondi beserta keluarganya harus rutin membersihkan area pantai sebanyak dua kali, yakni pada pagi dan sore hari setelah air laut surut.
“Setiap hari pekerjaan kita hanya untuk bersih-bersih sampah dan batu ini saja. Mau bagaimana lagi, sumber penghasilan kita hanya dari sini saja. Kalau kita tidak bersih-bersih, pasti pelanggan tidak mau berwisata di sini,” tutur Ibu Ondi dengan nada pasrah kepada Cenderawasih Pos.
Untuk menyiasati limpahan material yang terus berdatangan, Ibu Ondi berinisiatif mengumpulkan batu-batu apung tersebut dan memanfaatkannya sebagai bahan pengerasan lahan parkir kendaraan pengunjung.
Namun, penanganan limbah plastik jauh lebih menguras energi. Dalam sehari, ia harus sabar memunguti ribuan botol dan kemasan plastik yang jika dikumpulkan bisa mencapai belasan karung.
“Mungkin karena mereka (wisatawan) melihat pantai ini kotor dengan sampah dan batu apung ini, yang membuat mereka tidak minat dan tertarik lagi,” tambah Ibu Ondi.
“Ini sampah dari kapal yang berlayar di tengah laut. Kalau dari masyarakat sekitar ada, tapi tidak terlalu. Ini sampah buangan dari kapal ini,” jelas penjaga pantai tersebut.
Limbah-limbah tersebut terdorong oleh gelombang dan akhirnya terdampar di daratan setiap kali air laut mengalami pasang.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, lelah fisik dan mental harus dihadapi para pengelola pantai demi menjaga tempat usaha mereka tetap beroperasi. Ibu Ondi, salah seorang warga setempat yang mengelola dan menjaga kawasan Pantai Hamadi, mengaku harus bertarung melawan gempuran sampah yang tak kunjung habis.
Setiap hari, Ibu Ondi beserta keluarganya harus rutin membersihkan area pantai sebanyak dua kali, yakni pada pagi dan sore hari setelah air laut surut.
“Setiap hari pekerjaan kita hanya untuk bersih-bersih sampah dan batu ini saja. Mau bagaimana lagi, sumber penghasilan kita hanya dari sini saja. Kalau kita tidak bersih-bersih, pasti pelanggan tidak mau berwisata di sini,” tutur Ibu Ondi dengan nada pasrah kepada Cenderawasih Pos.
Untuk menyiasati limpahan material yang terus berdatangan, Ibu Ondi berinisiatif mengumpulkan batu-batu apung tersebut dan memanfaatkannya sebagai bahan pengerasan lahan parkir kendaraan pengunjung.
Namun, penanganan limbah plastik jauh lebih menguras energi. Dalam sehari, ia harus sabar memunguti ribuan botol dan kemasan plastik yang jika dikumpulkan bisa mencapai belasan karung.
“Mungkin karena mereka (wisatawan) melihat pantai ini kotor dengan sampah dan batu apung ini, yang membuat mereka tidak minat dan tertarik lagi,” tambah Ibu Ondi.