Sempat Tak Percaya Saat Disuruh Main Baki Sore

Namun ketika mengetahui putrinya dipercaya menjadi pembawa baki, rasa bangga bercampur dengan kekhawatiran. Selama ini, ia hanya melihat prosesi tersebut melalui televisi. Kini, anaknya sendiri yang berada di sana. Saat menyaksikan Nelce menjalankan tugas di Istana, doa menjadi kekuatan seorang ibu. “Tuhan, tolong dia supaya semua ini bisa selesai,” demikian harapannya. Selama kurang lebih 40 hari menjalani pendidikan dan pelatihan, komunikasi keluarga dengan Nelce juga terbatas.

Namun Stephy bersyukur karena putrinya berada di lingkungan yang memberikan dukungan mental dan semangat. “Luar biasa, Nel mendapat orang-orang yang ada di sekitarnya, orang-orang baik yang mendukung dia secara mental dan psikis. Jadi dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik,” katanya.

Baca Juga :  Semua Punya Tanggung Jawab Jaga Kambtibmas

Bagi sang ibu, Nelce bukanlah sosok yang selalu merasa percaya diri. Justru ia dikenal sebagai anak yang cukup takut gagal ketika menerima sebuah tanggung jawab.

Namun dari situlah keluarga mengajarkan kepadanya untuk tetap menjalani setiap proses. Jika salah, diperbaiki. Jika sudah baik, dipertahankan dan ditingkatkan. Prinsip sederhana itu pula yang dibawa Nelce ketika berdiri di Istana. Ia tidak mencoba menjadi orang lain. Ia hanya berusaha menjalankan amanah yang diberikan kepadanya sebaik mungkin. Menjadi Paskibraka nasional bukanlah akhir perjalanan Nelce.

Di balik seragam dan barisan yang membawanya ke Istana, ada cita-cita lain yang ingin ia kejar. Nelce ingin menjadi engineer tambang. Kini ia harus kembali ke bangku sekolah dan melanjutkan pendidikan bersama teman-temannya. Tetapi setelah perjalanan panjang itu, satu hal telah berubah. Namanya telah menjadi bagian dari sejarah SMA Negeri 8 Kota Jayapura. Ia datang dari sekolah yang baru tumbuh dan mencoba karena didorong gurunya untuk berani mengikuti seleksi.

Baca Juga :  Sopir Angkot Naikkan Tarif Sendiri, Awalnya Banyak Pengaduan Masyarakat

Namun ketika mengetahui putrinya dipercaya menjadi pembawa baki, rasa bangga bercampur dengan kekhawatiran. Selama ini, ia hanya melihat prosesi tersebut melalui televisi. Kini, anaknya sendiri yang berada di sana. Saat menyaksikan Nelce menjalankan tugas di Istana, doa menjadi kekuatan seorang ibu. “Tuhan, tolong dia supaya semua ini bisa selesai,” demikian harapannya. Selama kurang lebih 40 hari menjalani pendidikan dan pelatihan, komunikasi keluarga dengan Nelce juga terbatas.

Namun Stephy bersyukur karena putrinya berada di lingkungan yang memberikan dukungan mental dan semangat. “Luar biasa, Nel mendapat orang-orang yang ada di sekitarnya, orang-orang baik yang mendukung dia secara mental dan psikis. Jadi dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik,” katanya.

Baca Juga :  Pemprov Papua Pegunungan Buka Pameran Kinerja OPD

Bagi sang ibu, Nelce bukanlah sosok yang selalu merasa percaya diri. Justru ia dikenal sebagai anak yang cukup takut gagal ketika menerima sebuah tanggung jawab.

Namun dari situlah keluarga mengajarkan kepadanya untuk tetap menjalani setiap proses. Jika salah, diperbaiki. Jika sudah baik, dipertahankan dan ditingkatkan. Prinsip sederhana itu pula yang dibawa Nelce ketika berdiri di Istana. Ia tidak mencoba menjadi orang lain. Ia hanya berusaha menjalankan amanah yang diberikan kepadanya sebaik mungkin. Menjadi Paskibraka nasional bukanlah akhir perjalanan Nelce.

Di balik seragam dan barisan yang membawanya ke Istana, ada cita-cita lain yang ingin ia kejar. Nelce ingin menjadi engineer tambang. Kini ia harus kembali ke bangku sekolah dan melanjutkan pendidikan bersama teman-temannya. Tetapi setelah perjalanan panjang itu, satu hal telah berubah. Namanya telah menjadi bagian dari sejarah SMA Negeri 8 Kota Jayapura. Ia datang dari sekolah yang baru tumbuh dan mencoba karena didorong gurunya untuk berani mengikuti seleksi.

Baca Juga :  Drama PPD Japsel Tidak Mampu Runtuhkan Pilihan Suara Rakyat

Berita Terbaru

Artikel Lainnya