Keinginannya mengikuti Paskibraka memang sudah ada. Namun, keberanian untuk benar-benar mencoba semakin kuat setelah guru-guru di sekolah memberikan dorongan. “Nel, masuk Paskibraka saja, coba,” demikian ajakan sederhana dari gurunya. Kalimat itu menjadi awal dari perjalanan panjang Nelce. Ia mengikuti seleksi Paskibraka tingkat Kota Jayapura. Lolos. Kemudian mengikuti seleksi tingkat Provinsi Papua. Kembali lolos.
Perjalanan berlanjut hingga proses verifikasi di tingkat pusat. Hingga akhirnya, kabar yang ditunggu datang. Nelce dinyatakan sebagai salah satu perwakilan Papua untuk menjalankan tugas Paskibraka tingkat nasional. Dari Jayapura, ia berangkat menuju Jakarta bersama mimpi yang perlahan berubah menjadi kenyataan. Dari latihan hingga dipercaya membawa baki
Menjadi Paskibraka tingkat nasional bukan perkara mudah. Selama berminggu-minggu, Nelce harus menjalani pendidikan dan pelatihan bersama pelajar dari berbagai daerah di Indonesia. Pada masa latihan, posisi yang akan dijalankan belum tentu menjadi milik seseorang. Setiap anggota mendapat kesempatan menjalankan berbagai peran. Begitu pula Nelce. Ia bisa berada pada posisi pembawa baki, menjadi cadangan, menjadi bagian dari pasukan, maupun menjalankan tugas lainnya.
Namun, menjelang pelaksanaan upacara di Istana, namanya semakin sering muncul dalam latihan sebagai pembawa baki. “Pada akhir Juli dan saat gladi di Istana, selalu saya yang terpilih untuk menjadi pembawa baki,” cerita Nelce. Ia pun berlatih berkali-kali, termasuk bagaimana berjalan, menaiki dan menuruni tangga Istana serta menjaga konsentrasi dalam setiap gerakan.
Tetapi hingga hari pelaksanaan, belum ada kepastian yang benar-benar disampaikan kepadanya bahwa ia akan menjadi pembawa baki pada prosesi penurunan bendera. Sampai akhirnya, ketika pembagian tugas dilakukan, pelatih memberikan baki kepadanya. “Nel, main jadi baki sore.” Seketika perasaan Nelce bercampur. Bahagia, bangga, sekaligus gugup.
Ia sadar, tugas itu bukan sekadar membawa sebuah baki. Di dalamnya ada simbol tanggung jawab dan kehormatan yang harus dijalankan dengan penuh konsentrasi.
“Pastinya senang dan juga gugup karena harus membawa bendera. Menurut saya itu tanggung jawab yang sangat besar,” tuturnya.