Sempat Tak Percaya Saat Disuruh Main Baki Sore

Ketika akhirnya berdiri di Istana Negara, Nelce sadar bahwa dirinya tidak sedang berjalan seorang diri. Di belakangnya ada keluarga, ada guru, ada teman-teman sekolah, ada SMA Negeri 8, ada Kota Jayapura dan ada Papua.

“Saya bangga karena saya tidak membawa nama sendiri, tetapi membawa nama keluarga, sekolah, provinsi, terutama Kota Jayapura,” katanya.

Rasa gugup tentu ada. Namun dukungan dari rekan-rekan sesama Paskibraka menjadi kekuatan tersendiri. Mereka saling menyemangati, saling menguatkan dan bersama-sama menghadapi tanggung jawab besar yang telah dipercayakan negara. Dan sore itu, tugas tersebut berhasil dijalankan.

Seorang putri Papua dari Kota Jayapura berdiri di Istana Negara, membawa baki dalam prosesi penurunan Bendera Merah Putih. Kisah Nelce menjadi semakin istimewa karena sekolah tempatnya menimba ilmu masih sangat muda. SMA Negeri 8 Kota Jayapura baru memasuki tahun kedua perjalanan pendidikan. Nelce merupakan bagian dari angkatan pertama sekolah tersebut. Kepala SMA Negeri 8 Kota Jayapura, Jane Diana Maramis, mengaku bangga dengan pencapaian anak didiknya.

Baca Juga :  Laut Papua Dikepung Ancaman Serius

Menurutnya, sejak awal Nelce dan rekannya tidak datang dengan rasa percaya diri yang besar. Mereka bahkan sempat ragu mengikuti seleksi. Namun dorongan guru dan sekolah membuat keduanya berani mencoba.

“Puji Tuhan, Nel boleh terseleksi sampai di tingkat nasional. Ini juga berkat dukungan dari Nel sendiri, orang tua, dan sekolah,” kata Jane. Kini, keberhasilan Nelce menjadi motivasi baru bagi siswa-siswa SMA Negeri 8 lainnya

Ketika akhirnya berdiri di Istana Negara, Nelce sadar bahwa dirinya tidak sedang berjalan seorang diri. Di belakangnya ada keluarga, ada guru, ada teman-teman sekolah, ada SMA Negeri 8, ada Kota Jayapura dan ada Papua.

“Saya bangga karena saya tidak membawa nama sendiri, tetapi membawa nama keluarga, sekolah, provinsi, terutama Kota Jayapura,” katanya.

Rasa gugup tentu ada. Namun dukungan dari rekan-rekan sesama Paskibraka menjadi kekuatan tersendiri. Mereka saling menyemangati, saling menguatkan dan bersama-sama menghadapi tanggung jawab besar yang telah dipercayakan negara. Dan sore itu, tugas tersebut berhasil dijalankan.

Seorang putri Papua dari Kota Jayapura berdiri di Istana Negara, membawa baki dalam prosesi penurunan Bendera Merah Putih. Kisah Nelce menjadi semakin istimewa karena sekolah tempatnya menimba ilmu masih sangat muda. SMA Negeri 8 Kota Jayapura baru memasuki tahun kedua perjalanan pendidikan. Nelce merupakan bagian dari angkatan pertama sekolah tersebut. Kepala SMA Negeri 8 Kota Jayapura, Jane Diana Maramis, mengaku bangga dengan pencapaian anak didiknya.

Baca Juga :  Pemkot Resmikan Lima Dermaga dan Terminal Mesran

Menurutnya, sejak awal Nelce dan rekannya tidak datang dengan rasa percaya diri yang besar. Mereka bahkan sempat ragu mengikuti seleksi. Namun dorongan guru dan sekolah membuat keduanya berani mencoba.

“Puji Tuhan, Nel boleh terseleksi sampai di tingkat nasional. Ini juga berkat dukungan dari Nel sendiri, orang tua, dan sekolah,” kata Jane. Kini, keberhasilan Nelce menjadi motivasi baru bagi siswa-siswa SMA Negeri 8 lainnya

Berita Terbaru

Artikel Lainnya