Kondisi tersebut membuat tim harus mempertimbangkan secara matang bagaimana kandung kemih yang menyatu dapat dibagi menjadi dua. Pemisahan akhirnya dilakukan ketika kedua bayi berusia 1 tahun 6 bulan. Menurut Agoes, usia tersebut dipilih karena kandung kemih membutuhkan waktu untuk berkembang sehingga ukurannya dinilai lebih memungkinkan untuk dipisahkan.
Ia menyebut operasi melibatkan tim multidisiplin. Selain dokter bedah anak, dokter obgyn, dokter anestesi, urologi, bedah plastik, ortopedi, dokter anak, hingga dokter spesialis obstetri dan ginekologi juga terjun. Sejumlah tenaga kesehatan lain seperti farmasi klinik dan ahli gizi juga terlibat dalam proses perawatan.
“Ini adalah suatu kerja sama tim dan tim yang kompak dan solid sehingga bisa kita memisahkan itu dengan baik,” katanya. Agoes mengatakan bagian tubuh yang menyatu bukan hanya kandung kemih. Pada bagian genital, kedua bayi memiliki saluran yang mengarah ke sisi kanan dan kiri. Sementara bagian anus juga bergabung dalam satu saluran karena usus kedua bayi menyatu.
Karena kondisi tersebut, lubang BAB yang dibuat sebelum operasi pemisahan masih dipertahankan. Dengan begitu, kedua bayi tetap dapat menerima asupan makanan dan minuman sekaligus memperoleh nutrisi yang cukup. Setelah operasi pemisahan, lanjut dia, kondisi kedua bayi disebut stabil. Namun, penanganan belum selesai. Tim masih harus menunggu luka operasi mengering sebelum melanjutkan proses rekonstruksi pada bagian bawah tubuh.
“Jadi, ada tahapan-tahapannya. Harapannya setelah ini baik, nanti akan ada lanjutan-lanjutan,” jelas Agoes. Menurut Agoes, salah satu tantangan terbesar dalam operasi pemisahan kembar siam adalah kemungkinan ditemukannya kondisi organ yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi sebelum tindakan.Untuk mengantisipasinya, tim melakukan pemeriksaan pencitraan bersama tim radiologi serta pemeriksaan endoskopi oleh tim urologi.
Kondisi tersebut membuat tim harus mempertimbangkan secara matang bagaimana kandung kemih yang menyatu dapat dibagi menjadi dua. Pemisahan akhirnya dilakukan ketika kedua bayi berusia 1 tahun 6 bulan. Menurut Agoes, usia tersebut dipilih karena kandung kemih membutuhkan waktu untuk berkembang sehingga ukurannya dinilai lebih memungkinkan untuk dipisahkan.
Ia menyebut operasi melibatkan tim multidisiplin. Selain dokter bedah anak, dokter obgyn, dokter anestesi, urologi, bedah plastik, ortopedi, dokter anak, hingga dokter spesialis obstetri dan ginekologi juga terjun. Sejumlah tenaga kesehatan lain seperti farmasi klinik dan ahli gizi juga terlibat dalam proses perawatan.
“Ini adalah suatu kerja sama tim dan tim yang kompak dan solid sehingga bisa kita memisahkan itu dengan baik,” katanya. Agoes mengatakan bagian tubuh yang menyatu bukan hanya kandung kemih. Pada bagian genital, kedua bayi memiliki saluran yang mengarah ke sisi kanan dan kiri. Sementara bagian anus juga bergabung dalam satu saluran karena usus kedua bayi menyatu.
Karena kondisi tersebut, lubang BAB yang dibuat sebelum operasi pemisahan masih dipertahankan. Dengan begitu, kedua bayi tetap dapat menerima asupan makanan dan minuman sekaligus memperoleh nutrisi yang cukup. Setelah operasi pemisahan, lanjut dia, kondisi kedua bayi disebut stabil. Namun, penanganan belum selesai. Tim masih harus menunggu luka operasi mengering sebelum melanjutkan proses rekonstruksi pada bagian bawah tubuh.
“Jadi, ada tahapan-tahapannya. Harapannya setelah ini baik, nanti akan ada lanjutan-lanjutan,” jelas Agoes. Menurut Agoes, salah satu tantangan terbesar dalam operasi pemisahan kembar siam adalah kemungkinan ditemukannya kondisi organ yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi sebelum tindakan.Untuk mengantisipasinya, tim melakukan pemeriksaan pencitraan bersama tim radiologi serta pemeriksaan endoskopi oleh tim urologi.